Contact : 085255495033 | Instagram : @rhyfhad


KLIK PLAY MUSIK

Selasa, 27 Februari 2018

LOVE DIFFERENT RELIGION (Cinta Beda Agama) Bagian II






    
        Dari sebuah buku yang pernah aku baca katanya Cinta itu ibaratnya sebuah barang, Agama itu distributor dan Tuhan itu produsenya dan katanya semua tergantung produsennya mau diapakan barang tersebut? Aku tidak pernah berpikir jika itu sebuah kebenaran hingga akhirnya aku sendiri yang mengalaminya.

        Aku tidak pernah beranggapan bahwa Agama bisa memainkan peran besar dalam hidupku. Aku tumbuh seperti anak wanita nasrani yang lainnya yang juga merayakan liburan, ibadah "Kristen" seperti Paskah dan Natal. Aku senang dengan hidupku dan aku senang berteman dengan siapa saja tanpa membedakan status dan Agama hingga pada suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang akhirnya merubah cara berpikir dan perasaanku.

        Pertama kali bertemu dengannya disebuah ruangan aula di kampus. Saat itu dalam agenda penerimaan mahasiswa baru antar jurusan kami pun secara bergantian sesuai urutan nama memperkenalkan diri. Sambil menunggu giliran aku berbalik hanya sekedar ingin melihat beberapa orang yang nantinya akan menemani hariku di kampus. Dari arah kiri tiba-tiba pandanganku terhenti seketika karena saat itu mata salah satu anak laki-laki tertuju padaku kami saling memandang dan aku mencoba memperkenalkan diri melalui senyuman walaupun merasa malu. Tak hanya sekali, aku sesekali berbalik hanya untuk memastikan dan merekam wajahnya meskipun harus selalu tersenyum ketika dia menyadarinya.

        Beberapa hari setelah pertemuan itu aku pun semakin dekat dengannya, dekat dalam artian sering sekelas, ikut kegiatan kampus juga sama-sama bahkan sering satu kelompok juga bahkan pernah dihukum bersama karena terlambat. Kita mempunyai beberapa persamaan salah satunya dalam hal menulis cerita dan bercanda. Terkadang jika kami bertemu kebanyakan hanya bercanda, tertawa dan saling menjahili. Persamaan itu lah yang membuatku nyaman hingga aku lupa akan perbedaan, perbedaan yang menjadi pembatas bagaikan tembok yang sangat sangat besar, perbedaan itu disebut Agama. 

        Jujur ku akui bahwa aku jatuh Cinta kepada Gunawan yang tak lain adalah sahabatku. Aku tahu perasaannya sama denganku, aku tahu manisnya hubungan ini bagaikan madu di dalam botol. Bagiku jatuh cinta dengan cara Kristen adalah dengan mengatakan, "Aku senang akan pertemuan ini dan aku senang dan juga ingin menjadi bagian dari masa depanmu. Meskipun ini akan sulit tapi aku ingin kita sampai disana." Namun aku sadar sebagai manusia ciptaan Tuhan dan harus aku katakan "Mungkin kita hanya ditakdirkan untuk bertemu namun bukan untuk bersama."

        Aku teringat disaat aku dengan manja memintamu mengajakku jalan-jalan di hari libur tepatnya di hari minggu. Dengan sabar kamu menelponku dan berkata "Aku Sholat dulu yah, nanti aku jemput kamu setelah kamu pulang Gereja." Saat itu hatiku sangat tersentuh. Kamu memilih Agamamu dan Aku pun demikian. Kita tak harus munafik akan rasa yang tak terbahasakan ini. Meskipun kita bagaikan Assalamualaikum dan Shallom namun aku juga yakin seperti kamu yakin pada Amin kita yang sama. 

        Agama itu memang penting, aku tahu kamu juga berpikir demikian kan? Untuk itu kita harus membicarakannya dan ternyata benar kita memang berada di halaman yang sangat berbeda. Jadi apakah aku harus mengakhirinya? Aku benar-benar tak tahu jawabannya. Aku hanya bisa pasrah berlutut memohon yang terbaik pada tuhan demi Kamu, Agamaku dan Tuhanku. 

        Aku tak pernah sadar bahwa aku benar-benar peduli. Sekarang aku peduli pada Agamaku dan aku juga tak dapat berbohong jika aku juga peduli denganmu. Kehadiranmu telah merubah caraku berpikir dan caraku merasakan rasa. Ku harap kita tetap bisa seperti ini walaupun tak ada kata yang terucap cukup batin yang merasa. Suatu saat kita tak bersama lagi ku harap kamu tetap selalu ingat akan Agama, Tuhan dan Cinta yang tak pernah terbahasakan diantara kita. 

Kisah Fiktif ini Rencananya mau dilanjut ke bagian III jjikalau ada Pembaca yang menyetujui dan memberi tambahan ide cerita.. 
TTerimakasih... 

Senin, 26 Februari 2018

LOVE DIFFERENT RELIGION (Cinta Beda Agama) Bagian 1


             
            Sungguh tak pernah ku sangka dari mana arahnya perasaan ini datang menghampiriku. Bagaikan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka yang dikirimkan tuhan kepadaku. Aku percaya bahwa Allah SWT tidak pernah ingkar atas apa janji dan rencana yang telah ia tetapkan pada hambanya. Begitu pula tentang perasaan Cinta hambanya kepada sesama makhluk ciptaannya.
            
                     Katanya mustahil untuk kita bisa bersama karena katanya cinta beda agama itu haram. Aku berani bersumpah jika perasaanku ini mengartikan rasa suka kepada Raline. Jujur aku mencintainya bahkan aku juga bisa mengetahui dengan jelas perasaannya kepadaku. Kami saling mencintai dalam diam, memendam rasa dalam tawa dan saling menyayangi dengan batas. Batas yang dinamakan Agama. Dalam hati kami selalu bertanya mengapa tuhan menciptakan perbedaan kalau memang itu haram?
       
                Dari awal masuk kuliah disaat pertemuan pertama dengan beberapa teman-teman baru yang berasal dari berbagai suku dan agama aku merasa jika salah satu dari teman wanita ada yang menarik perhatianku karena tatapan dan senyumannya. Sesekali kami saling menatap tanpa sengaja meskipun hanya beberapa detik namun disaat dia menyadari terkadang dia tersenyum malu bahkan beberapa kali senyumannya langsung mengarah kepadaku.

            Tak butuh waktu lama untuk bisa mengetahui nama dan asal usul nya. Aku mengetahui beberapa hal tentang Raline karena beberapa kali aku selalu dipertemukan di kelompok yang sama dengannya bahkan seringkali kami ditunjuk berpasangan untuk mewakili kelompok bahkan mewakili beberapa teman-teman. Sejak saat itu aku akrab dengannya tak jarang kami saling menghubungi hanya sekedar bercanda dan saling curhat melalui media sosial. Namun sekali lagi kami hanya bisa memendam rasa yang tak terucap. Kami saling mengetahui rasa namun malu saling berucap itu karena kami berbeda keyakinan.

                Disaat aku membaca Al Quran terkadang aku teringat akan dirimu disana yang membaca Al Kitab. Disaat ku langkahkan kaki ku menuju Masjid aku pun teringat akan langkahmu  menuju Gereja. Disini tangan ini menggenggam tasbih dan disana kamu mengenakan kalung salib. Disaat kamu melantunkan pujian aku tak hentinya berucap Shalawat. Disaat kamu menggenggam tanganmu untuk berdoa disini aku juga mengangkat kedua tanganku untuk berdoa. Aku berdoa kepada tuhan untuk merubah takdir yang telah dituliskannya padaku walaupun aku mengetahui jika semua ini takkan merubah apapun.

               Aku selalu berharap kita bisa bersatu karena cinta namun kenyataannya tidak. Kita bisa  bertemu karena cinta dan takdir namun cinta dan takdir ini tak dapat membuat kita bersatu. Mengapa kita hanya bisa bertemu namun tak bisa menyatu? Mengapa Agama menjadi sekat diantara dua orang yang cintanya begitu melekat? Aku pernah berpikir bahwa Jodoh itu tuhan yg atur bukan Agama. Meskipun orang berkata untukmu Agama mu dan untuk ku Agama ku tapi aku yakin perasaan kita satu.

      Kita saling mendoakan meskpun tak bisa dipertemukan oleh tuhan. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kita juga tak dapat memaksakan keinginan apalagi menuruti nafsu. Apakah kita harus jatuh pada pilihan berhenti? Aku tak pernah mengetahui jawaban beberapa pertanyan yang selalu menghantui pikiranku.

     Aku tak pernah peduli entah bagaimana akhir dari semua ini, aku tak bisa mengetahui apakah kamu adalah jodohku atau bukan namun bagiku yang terpenting untuk saat ini kamulah yang aku perjuangkan. Meskipun kamu tahu jika hubungan ini tiada kepastian namun kamu tetap selalu berada di sampingku menemaniku dalam diam dan tawa.

      Aku percaya tuhan pasti akan menunjukkan jalan dan rencananya yang lebih indah pada kita. Mintalah aku pada tuhanmu sebagaimana aku memintamu pada tuhanku dalam doaku. Meskipun doa kita berbeda tapi yakinlah kita akan dipertemukan pada Amin yang sama. 

Iini kisah Fiktif yang mungkin saja nyata bagi sebagian orang, Bersambung... 

Kamis, 18 Mei 2017

SENYUMAN DOKTER CANTIKKU (Bagian Pertama)


Sumber Foto : Google Image

Harus dengan alasan apa lagi aku mengeluh kepada tuhan jika dia telah menciptakanmu untuk harus aku syukuri. Aku bisa pergi jika aku ingin mencari yang lebih baik tapi aku selalu menyadari tiap langkahku yang akan meninggalkan orang yang begitu baik. Hidup ini seperti langit yang selalu menjadi misteri kadang mendung kemudian hujan namun selalu ada pelangi tersenyum di balik cerahnya langit…

Entah mengapa di malam itu pikiranku kembali mengingat disaat pertama kali kita bertemu dikala duka menghampiriku. Semakin perlahan ku menutup mata dengan nafas yang pelan semakin aku mengingat semua yang pernah kita lalui bersama. Aku kembali teringat disuatu hari ketika aku menatapmu di sebuah rumah sakit umum. Saat itu ibuku terbaring lemas di salah satu kamar vip di rumah sakit tersebut dan sesaat setelah aku masuk ke dalam kamar pasien seorang suster masuk untuk memeriksa cairan infus milik ibuku tak lama setelah itu seorang dokter pun masuk untuk menanyakan keadaan ibu. Aku tak begitu memperhatikan mereka karena bagiku itu adalah urusan medis antara dokter dan pasien, setelah tugas mereka selesai tiba saatnya untuk mereka keluar, tepat disaat mereka berbalik si suster pun pamit dan tersenyum padaku seketika aku pun membalas senyumannya dan ketika aku menatap orang yang berjalan bersebelahan dengannya aku tak sengaja terus menatap hingga sang dokter itu berkata “Hey.. jangan melamun nanti bisa ikutan sakit loh..” dengan senyum yang manis dan ramah dokter itu menyapaku, aku hanya bisa tersenyum malu tanpa sedikitpun mengeluarkan kata-kata. Hanya saja dalam hatiku berkata jika dokter itu begitu sangat cantik di usianya yang masih sangat muda.

            Beberapa hari berlalu dengan setia dokter cantik itu masih tetap menangani ibuku. Saat itu ibu masuk rumah sakit karena terjadi benturan keras di kepalanya akibat terjatuh dari tangga rumah yang sangat tinggi, kata dokternya ibu harus dirawat lebih lama karena terjadi pendarahan di dalam kepala, aku tak begitu mengerti dengan penjelasannya tapi intinya seperti itu. Disuatu malam ketika hanya aku yang menjaga ibu tiba-tiba ibu merasa sangat kesakitan di bagian kepalanya, aku begitu panik hingga aku teriak dan berlari keluar kamar untuk memanggil suster, seketika suster pun datang dan mencoba menangani sambil menghubungi dokter. Tak lama berselang dokter pun datang dan segera menyuntikkan obat ke ibu dan akhirnya ibu perlahan merasa tenang dan akhirnya tertidur.

            Saat itu rasa panik dan takut masih aku rasakan, para suster pun meninggalkan ruangan dan akhirnya hanya ada aku, ibu dan dokter. Dokter langsung menghampiriku yang duduk di sofa dengan rasa cemas, dokter yang begitu tenang dengan wajahnyan yang cantik mencoba menenangkanku dengan berkata “Sudah tidak apa-apa mas, aku menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke ibu, ada penenangnya juga jadi ibu bisa tidur nyenyak untuk malam ini” ucapan dokter ini berhasil mebuatku sedikit  tenang meskipun tanpa suntikan penenang. “Terimakasih dok, tadi aku begitu khawatir” jawabku singkat merasa malu. “Iya sama-sama mas sudah menjadi kewajibanku untuk membantu pasien” katanya sambil tersenyum. “Mmm.. dok, boleh jangan panggil aku Mas? Namaku Rendi dok” secara tidak langsung aku memperkenalkan diri berharap sang dokter membalas dengan percakapan yang lebih meskipun pada akhirnya dia hanya berkata “Iya Rendi, kalau begitu aku pamit dulu masih ada pasien yang menunggu, hehe..” kemudian dia pergi.

            Keesokan harinya aku menanti kedatangan dokter cantik itu. Entah apa yang aku rasakan saat itu, rasa ingin selalu bertemu dengan dokter itu, harus ku akui bahwa aku menyukainya selain wajahnya yang begitu cantik juga sikapnya yang begitu bersahabat membuatku sangat menyukainya namun selama ini aku belum pernah menyatakan perasaan kepada seorang wanita itu sebabnya teman-temanku kadang menejekku dengan sebutan Takojo (Tampan Kok Jomblo?) dan menurutku aku tak pantas dengan seorang dokter selain usianya yang jauh lebih tua dariku yang masih mahasiswa semester 4 ini juga tingkat pergaulan antara kami juga sangat jauh berbeda, aku bergaulnya dengan anak-anak yang masa depannya masih dipertanyakan sedangkan dia bergaulnya dengan yang tak perlu dipertanyakan. Tiba pada saat sore itu ketika sang dokter datang memeriksa keadaan ibu aku merasa jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Sementara ibu berbicara pada dokter tiba-tiba ibu memanggilku untuk membawakan segelas air putih, dengan semangat aku memberi kepada ibu setelah ibu meminumnya ibu pun bertanya kepada dokter “Dokter namanya siapa?” dengan ramah dokter cantik ini menjawab “Nama saya Risna bu” dengan ini aku telah mengetahui jika nama dokter ini adalah Risna, seolah ibu tahu jika aku ingin mengetahui nama ibu dokter ini. Ibu pun kembali bertanya “Nak Risna sudah punya pacar belum?” aduhh.. pertanyaan ibu ini membuatku sedikit malu tapi biarlah jawaban ini juga salah satu yang ingin aku ketahui. Risna Dokter cantik itu tersenyum berkata “Saya sudah punya suami dan dua orang anak bu” mendengar jawaban itu membuatku ingin disuntik mati saja, aku merasa hancur namun dokter tertawa sambil berkata “Hahaha… jangankan suami buu pacaran saja belum pernah” untung aku tidak disuntik mati, mendengar jawaban ini aku sangat senang. Saat itu pula ibu tersenyum tulus kembali bertanya ke dokter “Nak Dokter Risna mau tidak menikah dengan Rendi anak saya ini?” ibu tersenyum dan menatap ke arahku. Untuk bagian ini aku tak dapat menuliskan dengan kata apa yang aku rasakan saat itu, iya aku merasa malu namun disaat yang sama aku juga ahh entahlah. Saat itu suasana sejenak hening, Dokter Risna sesaat menatapku seolah dengan cepat menilai semua yang ada pada diriku kemudian kembali bertatapan dengan ibu tersenyum menjawab “Iya aku mauu Kalau masalah jodoh aku serahkan kepada Allah SWT ibu.” Seolah mencoba meyakinkan, ibu tersenyum tenang dan berkata “Kalian bisa saling mengenal dulu mencoba menjalin kedekatan saja, usia ibu juga sudah senja, ibu sangat bahagia dan tenang jika anak ibu menikah dengan seorang dokter dan..” Belum selesai ibu berbicara aku memotong pembicaraannya karena sejujurnya aku tidak suka jika mendengar ibu berkata mengenai usia. “Ibu dokternya pasti lagi banyak pasien jangan diajak cerita lama-lama dong ibu.” Kataku sedikit tegas. “Tidak apa-apa kok Rendi, lagian apa salahnya ibu membahasakan isi hatinya.” Kata Dokter Risna kepadaku, setelah itu dia pun pamit kepada ibu “Kalau begitu aku pamit dulu ibu, mengenai yang ibu bahasakan tadi Inshaa Allah kita semua bisa dapat petunjuk dari Allah SWT.” Tanpa terasa bibirku berucap Aamiin.. ibu hanya bisa tersenyum menatap kami dan setelah itu Dokter Risna meninggalkan ruangan namun sempat menatapku kemudian tersenyum menghela nafas.

            Beberapa hari setelah itu keadaan ibu mulai membaik kami sekeluarga pun merasa sedikit tenang namun disaat kami semua berkumpul pada malam itu ibu kembali merasa kesakitan di kepalanya kami semua merasa khawatir namun  kebetulan pada malam itu Dokter Risna berada di ruangan karena itu tepat jam pengecekan pasiennya. Entah mengapa saat itu aku merasa tak tenang meskipun dokter dan para suster berada di dalam ruangan, kami hanya bisa menatap dan berdoa demi kesebuhan ibu. Adik-adik ku memelukku menangis dan berdoa serta ayah yang juga cemas menatap dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku menatap ibu yang mulai tak sadarkan diri, beberapa menit sempat sadar lalu muntah kemudian kembali tak sadarkan diri lagi. Setelah beberapa lama berjuang Dokter Risna berkata kepada suster “Jam 21:08” setelah berkata demikian Dokter Risna berbalik menuju ke arah kami menatapku berkata “Innalillahi wainnailaihi rojiun, ibu telah tiada yang sabar Rendi” kala itu aku menolak untuk percaya walaupun pada kenyataannya Adik dan Ayah telah menangis menuju ke arah ibu, aku menatap Risna yang kala itu juga mengeluarkan air mata, aku menuju kea rah Ibu dan mengeluarkan air mata kesedihan yang sangat sedih kehilangan…

            Tak lama setelah itu setelah pihak rumah sakit mengurus semuanya saat itu Dokter Risna yang mengurus semuanya kami pulang bersama ibu dan keesokan harinya kami memakamkan ibu dan berpisah untuk selamanya. Hari itu di pemakaman ibu juga hadir Dokter Risna dengan keadaan haru saat bertemu dengannya aku memeluknya dengan karena aku kembali mengingat saat terakhir disaat kami bertiga berbicara tentang isi hati ibu. Dokter Risna mengerti keadaan yang aku rasakan saat itu dia hanya bisa memegang pundak dan kepalaku dalam pelukannya sambil mengucapkan kata sabar berulang kali dari bibirnya kemudian juga ikut menangis tersedu.

            Sepulang pemakaman ibu pun dia ikut bersama kami menuju ke rumah. Aku sempat menatapnya dari kejauhan menenangkan Adik-adikku kemudian menghampiriku tersenyum dan izin pulang untuk kembali ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Saat itu aku hanya bisa berkata terimakasih atas semua bantuannya selama ini dan meminta maaf jika ada salah kata dari kami sekeluarga. Setelah saat itu kami tak bisa bertemu lagi dalam waktu yang cukup lama.

BERSAMBUNG..........

Maaf ceritanya harus bersambung dulu.. Penulis lelah dan ikut terhanyut dalam kesedihan tulisan khayalannya sendiri, skenario cerita yang kedua harus dirubah dulu..

Senin, 10 April 2017

SEPERTI SEHARUSNYA (Takdirku)




Beberapa temanku berkata jika aku ini adalah seorang wanita yang sedikit aneh. Sebagian teman juga berkata jika aku ini berbeda dengan mereka. Bukan karena aku tak secantik mereka bukan pula karena aku tak secerdas mereka, katanya aku ini tak seperti wanita lainnya yang suka berdandan, berpakaian rapi atau memakai gaun. Sampai beberapa teman juga bertanya tentang perasaanku kepada seorang pria. Jujur ku katakan aku ini normal, aku juga punya perasaan yang sama dengan wanita yang lainnya disaat melihat pria tampan, namun yang membedakan aku tak terbiasa histeris berteriak atau membahasakan kekaguman terhadap sesama ciptaan tuhan.

Mungkin sifat tak peduli terhadap penampilan ini karena beberapa saudaraku adalah pria dan satu-satunya wanita itu adalah aku. Dari semenjak kecil itulah aku selalu berada di tengah pria bahkan hingga saat ini aku selalu ingin meniru penampilan semua kakak ku yang menurutku keren. Bahkan tak jarang aku memakai baju kaos milik mereka hingga celana jeans mereka pun pernah aku pakai. Mereka tak pernah marah atau menyalahkanku bahkan mereka yang sewaktu aku kecil dulu selalu mendandaniku bagaikan anak band yang popular pada jamannya. Sering memakai baju pria bukan berarti aku ini tomboy atau tidak mempunyai sifat feminim, dalam hal memasak dan mebersihkan adalah keahlianku. Semua saudaraku memperebutkanku untuk tinggal bersamanya dengan berbagai macam janji hanya untuk bisa mengurusnya di kost dan kontrakannya atau menjadi pengasuh anaknya.

Hingga saat ini aku lebih memilih untuk tinggal bersama ibu karena semenjak kepergian ayah aku merasa sangat kehilangan dan aku mengerti kesedihan yang dirasakan ibuku. Saat ini aku sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi yang mempelajari tentang otonomi meskipun aku ini ahli dalam ekonomi namun yang sebenarnya punya impian belajar tentang anatomi.

Minggu, 09 April 2017

MAAF, KUBAGI CINTAKU DENGANNYA



 
Aku paham dengan apa yang terjadi denganku saat ini, aku bahkan mengetahui jika yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Aku tetap mencintaimu namun aku juga tak berdaya dengan perasaan yang tumbuh ini kepadanya. Aku benar-benar tak berdaya ketika berada di dekatnya, seakan dia mengerti tentang kejenuhanku dan tentang perasaanku yang ingin mempunyai ruang untuk kesendirianku.

Semua rasaku terhadapmu yang dulu kembali kurasakan kepadanya namun harus kuakui jika perasaan ini terhadapmu masih sangat menginginkan dirimu selalu ada di dekatku. Aku selalu bercerita banyak hal kepadanya, tanpa sepengetahuanmu aku sering berjumpa dengannya di berbagai acara yang diadakan oleh teman-teman kuliahku. Selama ini aku tak pernah menceritakan tentang perkenalan dan keakrabanku dengan seorang pria yang tak lama ini telah menjadi teman yang rajin mendengar ceritaku.

Di berbagai celah kesibukan yang kujalani beberapa minggu ini aku selalu menginginkan semangat darimu namun kamu hanya tak peduli denganku bahkan kamu hanya mencela dan mengutuk teman-teman atau orang-orang di sekitarku. Kamu menuduh mereka yang merusak hubungan kita, kamu tidak pernah setuju jika aku bergabung dengan beberapa organisasi kampus dengan alasan semua yang kulakukan tak pernah penting dan bagimu mereka teman-temanku adalah orang yang telah menjauhkanmu dariku. Namun tak pernah kamu sadari tentang pergaulanmu di luar sana selama ini. Kamu hanya menginginkan keberadaanku disaat teman komunitasmu itu sibuk dengan urusan pribadi mereka, disaat kamu tak membutuhkanku jangankan menghubungiku, aku bertanya kabar, keberadaan dan keadaanmu saja kamu sudah menganggapku possesif atau suka mengatur kehidupan pribadimu.

Disaat yang sama di berbagai celah kesibukanku dia selalu muncul disaat aku membutuhkan semangat. Dia lah orang yang mengajakku bercanda, cerita dan selalu ingin mendengar ceritaku. Tak jarang dia memberikan motivasi ataupun pandangan hidup kepadaku. Aku benar-benar tak berdaya dengan perasaan ini. Aku benar-benar inigin merasakan kesendirian namun aku juga ingin kamu menjagaku dan berada di dekatku. Di satu sisi aku juga ingin dia selalu bersamaku namu aku tak ingin kalian saling mengenal satu sama lain. Aku tak pernah bercerita tentangmu kepadanya begitu pula kepadamu yang tak pernah ku ceritakan tentangnya.

Seiring berjalannya waktu aku merasakan diriku luluh akan dirinya. Meskipun aku mencoba menjaga jarak namun tetap jika dia menghampiriku selalu saja aku ini ingin lebih dekat dan tetap tertawa lepas serta cerewet kepadanya. Jujur yang kurasakan ini adalah perasaan suka kepadanya. Tanpa sepengetahuan siapapun akhir-akhir ini aku selalu berkomunikasi dengannya melalui pesan di media sosial, meskipun hanya bertanya kabar hingga bercanda seadanya.

Tanpa sepengetahuanmu juga aku bahkan menerima ajakannya walau hanya sekedar makan malam atau berjalan-jalan di sore hari. Suatu hari ingin rasanya menceritakan kepadanya tentangmu dan tentang kita namun aku tak ingin jika dia menjauh hanya untuk menjaga jarak denganku. Terkadang juga disaat aku bersamamu ingin rasanya hatiku jujur kepadamu tentangnya namun aku takut kamu kecewa dan pergi meninggalkanku hanya karena kebodohanku ini.

Jujur yang kurasakan disaat aku bersamanya aku merasa nyaman namun disaat yang sama aku juga bersedih karena mengingat tentang kita dulu yang seperti ini, berbeda dengan kita yang sekarang, kamu yang sekarang seolah membenciku dan ingin menjauh dariku. Aku tetap mencintaimu dan menginginkanmu disisa usiaku namun maafkan aku yang pernah membagi cintaku kepadanya.


Minggu, 19 Februari 2017

MELEPASMU II (Versi Pria)




                Walau perih hati yang kurasakan tanpa ada cintamu lagi di sisiku aku tetap mencoba pergi mengarungi jalan takdirku sendiri. Semua tentang khayalanmu yang ingin mempunyai rumah mewah, tentang harapanmu yang ingin menjadi ibu dan keinginanmu menjadikanku seorang ayah dari sepasang anak kembar yang sangat kamu inginkan, juga tentang khayalan gila mu yang ingin mengelilingi indahnya negeri ini berdua denganku kini hanya menjadi sebuah mimpi, angan dan harapan yang kita rangkai bersama.

                Dalam gelisah hati yang kurasa saat itu sering aku bertanya dalam hati tentang perasaanku yang sedih tanpa aku ketahui sebabnya. Betul yang kurasa tentang kesedihanku saat itu, telah berakhir semua kenyataan tentang dirimu, aku mengetahui semua tentang perjodohanmu sebelum kamu mengatakannya padaku. Besar harapan kedua orangtuamu untuk melihatmu bahagia bersamanya, aku pun mengerti harapan mereka disaat mengatakan semuanya kepadaku. Aku hanya bisa menuruti demi kebahagiaan kamu dan keluargamu meskipun harus menahan kesedihan dan air mata.

                Harus aku akui ini semua salah ku yang memilih untuk hadir di hidupmu. Seakan tak percaya kenyataan ini, aku merasakan baru saja beberapa hari yang lalu kita bersama merangkai khayal bersama. Setelah mengetahui semua ini aku berharap setelah hari ini aku terbangun dan aku berharap ini bukanlah sebuah kenyataan. Aku pun berharap jika ini adalah sebuah kenyataan aku tak ingin terbangun lagi dari tidurku di malam ini.

                Aku mencoba memilih untuk diam tak mengatakan apapun padamu walaupun kamu terkadang marah dengan sikapku yang tidak begitu ceria dari sebelumnya. Beberapa hari berlalu aku mencoba mencari tau siapa dia yang akan menjadi orang yang membuat khayalanmu menjadi nyata. Aku tak ingin dia lebih buruk dari apa yang kamu benci dariku, aku tak ingin dia menyakitimu disaat aku tak ada lagi bersamamu, yang aku inginkan dia lebih baik dari apa yang kamu sukai tentangku, aku ingin dia selalu bisa membuatmu ceria, selalu bisa menuruti permintaanmu yang tidak masuk akal dan aku ingin dia membuat semua harapanmu menjadi sebuah kenyataan dan juga bisa membuatmu bahagia.

                Beberapa hari sebelum hari pernikahanmu aku bertemu dengannya berkat bantuan kakak iparmu. Kami bercerita cukup lama, dia memperkenalkan dirinya dengan ramah. Dia bertanya padaku tentang bagaimana dirimu, dengan semua yang aku ketahui tentangmu ku ceritakan padanya. Aku mengatakan padanya jika kamu adalah orang yang keras kepala, takkan pernah berhenti meminta dan mengingatkan jika yang diinginkan belum dikabulkan, kamu suka makan meskipun setelah makan selalu merasa bersalah karena selalu berjanji pada cermin untuk memiliki tubuh ideal, aku juga berkata jika kamu ingin menjadi seorang ibu mempunyai sepasang anak kembar dan ingin menikmati indahnya negeri ini bersama ayah dari anak anak mu nanti. Tampaknya dia begitu serius menyimak ceritaku sampai dia tersenyum tulus untuk menantikan perkataanku selanjutnya.

                Aku merasa sedikit legah bertemu dengan dia yang kelihatannya begitu dewasa dan bijak serta berkecukupan untukmu dan masa depanmu. Pada awalnya aku berjanji pada ego ku untuk menyakitinya secara fisik jika suatu saat bertemu dengannya namun entah mengapa aku lebih memilih untuk berusaha rela melepasmu bersamanya walau hati ini tak pernah bisa mampu menerima kenyataan.

                Disaat yang sama dia tersenyum dan memintaku untuk menghadiri pernikahanmu. Sekejap aku merasa marah padanya namun dia berkata

“jika kamu mencintainya datanglah bertemu dengannya, hapus air mata kesedihannya, meskipun dia bukanlah takdirmu namun kamu masih bisa melihat dan mendengar kabarnya, janganlah hidup dalam penyesalan seperti diriku ini, aku pernah menemukan takdir hidupku namun dia juga pergi meninggalkanku bukan sementara namun selamanya, kabar, wajah, suara, senyum dan air mata nya takkan pernah bisa aku dapatkan lagi, dia juga punya harapan yang ingin aku kabulkan tapi aku juga tak ingin dia bersedih tidak merasa tenang menungguku disana.”

                Setelah pertemuan dan percakapan itu aku berjanji akan menghadiri pernikahanmu walau harus menanggung malu dan kesedihan aku akan menemuimu menghapus air mata kesedihanmu dan aku berjanji akan tersenyum untukmu demi melepasmu bahagia bersamanya.

FLASH BACK : Seorang Pria (dia) yang ingin dijodohkan dengan wanita dalam cerita ini adalah orang yang ada di kisah AKU MENGERTI KARENA AKU MERASAKANNYA (Baca dan Klik Disini)