Contact : 085255495033 | Instagram : @rhyfhad


KLIK PLAY MUSIK

Rabu, 10 Oktober 2018

AKU HANYA "wanita" DRIVER OJEK ONLINE! [Bagian VI]



     Pukul 16:48, sore itu di taman. 

"Lebih baik aku yang duluan datang daripada harus membuat orang menunggu lama"

     Aku berjalan menatap sudut taman. Tidak banyak yang berubah dari Taman ini hanya saja ada beberapa tambahan bunga dan tembok tempat duduk dan di sebelah sini tempat dulu aku pertama kali.... Saat aku menatap tempat itu aku melihat..

"Itu kan Iyan?" Ucapku dalam hati.

     Kemudian aku menghampirinya dan memang benar itu adalah Iyan.

"Arin?" Menatap dengan senyuman. 

"Hmmm... Kamu disini sudah lama?" Jawabku sedikit jutek.

"Tidak juga, Aku sengaja datang cepat supaya kamu tidak menunggu dan aku juga ingin bernostalgia lebih lama dengan tempat ini" Jawabnya masih dengan senyum yang sama.

"Oh begitu" 

     Kemudian aku duduk di samping Iyan. Kami duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup dekat namun pandangan kami lurus kedepan seolah menatap pohon yang tao jauh berada di depan kami.

"Rin kamu masih ingat disaat kita pertama kali bertemu disini?" Tanya Iyan.

"Iya aku ingat" Jawabku singkat.

"Saat itu aku bersama adik ku yang bersepeda dan..." 

     Kemudian aku memotong dan melanjutkan perkataannya.

"Fina saat itu terjatuh dan menangis, kamu marah sama Fina kemudian dia tambah menangis, untung ada aku yang bisa menenangkannya" Sambil melanjutkan.

"Kamu tuh yah tidak pernah mengerti perasaan wanita termasuk adik sendiri, mungkin saja sampai saat ini kamu masih sering marah ke Fina yah?" 

"Kamu masih ingat? Sekarang Fina sudah besar bukan anak kecil lagi, terkadang dia menggodaku dengan menyebut nama mu" Kata Iyan yang tersenyum berbalik menatapku.

"Iya, Sekarang Fina sudah besar dan cantik sungguh tak terasa" Kemudian tanpa sadar aku pun berbalik dan ikut tersenyum.

"Memang kamu pernah ketemu sama Fina?" Iyan heran.

"Iya.. sebelum kesini aku dapat orderan dan kebetulan itu adalah Fina, selama di perjalanan kami bercerita beberapa hal" Sesekali aku menghela nafas panjang.

"Mungkin dia juga merasakan bagaiamana rasanya pertama kali bertemu dengan kamu Rin"

"Rasa apa? Kami sesama wanita kalau ketemu selalu ceria dan cerita  gak pakai baper-baperan" Kataku dengan menatapnya.

"Hahaha... Iya kamu dan Fina kan selalu akrab dan cerewet dari duluu"

     Kemudian beberapa detik tiba-tiba menjadi hening seolah tak ada lagi pembahasan tapi kemudian Iyan berkata.

"Hmm.. Rinn... Apakah kamu begitu dendam dengan aku?Apakah masih ada pintu maaf untuk ku? dan Masih bolehkah aku menyimpan rasa ini? Rasa yang tak pernah berubah kepadamu Rin?"

"Aku sudah menganggap masalah ini selesai, kan kita sudah bahas lewat chat? Kalau masih mau bahas ini lebih baik aku pergi, aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk pembahasan yang berulang" Jawabku.

"Iya Rin tapi sebelumnya kamu jawab dulu, aku ingin mendengar jawaban dari suaramu" Kata Iyan yang memohon.

"Iyan aku kan sudah bilang aku tak lagi ada dendam denganmu, kalau kecewa itu memang benar adanya, sebelum kamu minta maaf aku sudah memaafkanmu dan selama ini... Aku terus belajar Ikhlas namun hingga saat ini aku belum bisa Iyan, aku masih menyimpan rasa ini seperti kamu yang juga masih menyimpannya dan ini salah satu alasan mengapa aku masih memilih untuk sendiri" Dengan mata yang berkaca-kaca aku pun melanjutkan.

"Tapi Iyan.. kita harus sadar dan mengerti bahwa ini tidak akan pernah bisa lagi... Kamu sudah punya Istri, kamu harus mengerti perasaannya. Aku adalah wanita dan aku tau persis bagaimana rasa seorang wanita. Cukup aku yang merasakan ini, cukup aku yang kau buat seperti ini, aku tak ingin Istrimu merasakannya juga. Mungkin saja disaat ini dia lagi sayang-sayangnya dengan suaminya dan coba kamu bayangkan jika Istrimu tau kalau kamu mengkhianatinya?"

"Iya Rin aku mengerti" Kata Iyan dan aku tetap melanjutkan apa yang ingin aku katakan.

"Apakah kamu berharap dan berpikir jika melepaskan seseorang yang sudah pasti demi yang belum pasti itu bisa membuatmu bahagia? Belum tentu Iyan! Jika kamu berharap ingin membangun rasa lagi padaku itu semua tidak akan pernah terjadi meskipun kamu melepaskan hubungan dengan Istri dan Anakmu tetap saja takkan bisa merubah apapun dan aku juga takkan pernah bisa menerima dan memaafkanmu jika itu yang terjadi" Kemudian beberapa tetes air mata pun jatuh ke pipiku.

"Aku juga menyadari semua itu Rin, Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama namun saat ini aku hanya merasa bahagia bisa kembali bertemu denganmu Rin dan juga aku ingin meluruskan kesalahpahaman kita selama ini Rin, Dari dulu hingga saat ini rasa cintaku padamu tetap sama namun karena demi Anak dan Istriku ku aku membatasi rasa ini Rin" 

     Kemudian Iyan melanjutkan.

"Rinn harus kamu ketahui jika aku melakukan semua ini demi rasa Cinta.. Cintaku kepadamu dan Cintaku kepada Orangtuaku, Saat itu aku bingung Rin hingga akhirnya aku lebih memilih Cintaku kepada Orangtuaku bukannya aku tidak mencintaimu Rin tapi disaat itu aku benar-benar bingung Rin dengan perjodohanku" Ungkap Iyan dengan sedih penuh penyesalan.

"Kenapa dulu kamu tidak menceritakan ini padaku? Kenapa disaat kita tak lagi ada komunikasi kamu baru mau mencari dan menceritakan semua padaku?" Tangisku pun tak dapat tertahankan.

     Aku menangis bukan hanya merasa sedih namun juga karena bahagia bisa bertemu dan mendengar yang sebenarnya dari Iyan.

"Saat itu aku tak bisa berpikir jernih Rin, Waktu itu Ibu juga mengetahui hubungan kita Rin kalau setuju iya dia menang setuju. Tapi Rinn.. Jauh sebelum kita ketemu Ibu pernah berjanji pada orangtua Inayah Istriku untuk menikahkan aku dengan Inayah" 

"Jadi disaat Ibu Inayah masih hidup saat itu dia bersahabat dengan Ibuku hingga akhirnya Ibu Inayah sakit dan diakhir hayatnya dia berpsesan ke Ibuku untuk tetap menjaga anak semata wayangnya saat itu Ibu berjanji akan menganggap Inayah sebagai anaknya sendiri. Bahkan Ibuku bersumpah dan berjanji untuk menikahkan Inayah denganku supaya Inayah tetap berada di dekatnya sebagai anak"

"Aku sudah menganggap Inayah sebagai Kakak ku sendiri. Ibu juga tidak pernah bercerita tentang hal itu hingga dia memutuskan untuk menikahkan kami barulah dia bercerita tentang kejadian itu"

     Seperti itulah kejadian yang sebenarnya yang selama ini tidak pernah aku pahami. Aku seketika merasa sangat bersalah dan semakin tak dapat mengendalikan tangis dan air mataku. Aku tak dapat membahasakan apa yang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa menangis tersedu dan berusaha menenangkan diri untuk dapat berbicara kepada Iyan.

"Iyan aku yang harusnya meminta maaf pada kalian. Aku juga sangat merasa bersalah dengan Ibumu.. Ibu mu pasti merasa sedih ketika aku hadir dihidupmu saat itu. Ibumu pasti merasa jika aku menjauhkan hubungannya dengan Inayah jika aku tetap dekat denganmu, Ibumu tidak ingin kehilangan anak-anaknya yang dia sayangi makanya dia mengambil keputusan ini. Selama ini aku salah dalam berpikir Iyan" Ucapku dengan tersedu-sedu.

"Saat itu aku sangat kebingungan sangat sulit untuk menjelaskannya padamu.. Aku hanya bisa mencoba menyemangatimu, aku tak sanggup bertemu denganmu Rinn dan hanya bisa menyampaikan beberapa kata melalui pesan singkat. Maafkan aku Arin.. Maaf... Aku mencintaimu... Akuu minta maaf Rinn..." Iyan pun tak kuasa menahan kesedihannya dan juga menangis tersedu.

      Kami berdua meneteskan air mata yang tertahan selama ini. Kemudian aku berusaha kembali berbicara padanya.

"Ini bukan salah kamu Iyan dan ini juga buka salah siapa-siapa, Kita tidak harus menyalahkan apalagi mengutuk siapapun apalagi harus menyalahkan takdir. Meskipun kita memohon dan berharap kepada tuhan ini takkan bisa merubah apapun Iyan" Aku berusaha tersenyum meskipun masih tersisa air mata.

"Iya Rinn, mungkin tuhan hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala ketika kita meminta untuk merubah takdir yang telah Ia tuliskan" Iyan pun kembali tersenyum.

     Aku hanya bisa membalas senyum Iyan sambil menatap wajahnya yang ku rindukan.

"Akhirnya aku merasa legah bisa menceritakan semuanya kepadamu Rin. Aku sangat senang dan bahagia bisa mengenal dan bisa sempat memilikimu" Tampak senyum bahagia di wajah Iyan.

"Iya Iyan aku juga demikian, aku harap setelah ini hubungan kita baik-baik saja dan tetap bisa menjadi teman"

"Iyan mau kah kamu juga memaafkanku? dan mari kita lupakan masa lalu kita" Ucapku yang tersenyum tulus padanya.

"Iya Arin, mari kita saling memaafkan dan mari kita melangkah dari masa lalu" Balas Iyan dengan senyum yang tulus.

     Setelah itu kami pun bercerita beberapa hal di masa lalu. Beberapa hal yang menyenangkan dan yang lucu. Kami pun kembali akrab tertawa dan senyum lagi.

     Pukul 17:20, tanpa terasa kali ini waktu begitu cepat berlalu bagiku.

"Iyan sudah sore dan hampir malam, Aku juga mau pulang istirahat kalau ada waktu dan tenaga biasanya aku lanjut sampai malam" 

"Iya Rinn, Terimakasih banyak sudah bisa mendengar dan memaafkan serta meluruskan semua kesalahan kita di masa lalu" Menatapku dengan senyumnya.

"Kalau begitu aku juga pamit Rinn.. Ehh. Apakah ini pertemuan kita yang terakhir Rin?" Tanya Iyan.

"Hmm.. Menurutmu bagaimana? hahaha.." Jawabku dengan nada meledek.
"Semoga ini bukan yang terakhir, lain kali kalau ada kesempatan kita ketemu lagi yah Rin" 

"Iya tapi kamu ajak Istri dan Anak Cantikmu itu yahh!" Sambil berlari kecil aku menjawabnya.

"Iyaa Rinn!! Sampai jumpa lagi!!Hati-hati di jalan Rin dan tetap semangat!" Teriak Iyan.

"Iya Iyan kamu juga..!! Semangat! Daahh!!"

"Iyan tahukah kamu jika dibalik helem ini aku meneteskan air mata, entah ini air mata apa? Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, Terimakasih dan Maafkan aku" Ucapku dalam hati sambil ku tatap dirimu di kejauhan.

     Setelah percakapan itu aku melangkah dengan rasa sedih dan haru namun disaat yang sama aku juga merasa sangat bahagia dan legah bisa saling memaafkan. Hidupku bagaikan terlahir kembali.

     Kenapa selama ini aku tidak pernah tau? Kenapa selama ini aku tidak pernah mencari tau? Kenapa selama ini aku tidak pernah bisa merelakan? Kenapa?? Kenapa baru sekarang? 

     Inilah hidup dan inilah takdir. Aku tak akan lagi tertinggal di masa lalu dan aku tak akan lagi mengembara terlalu jauh ke masa depan, aku hanya ingin berada disini saat ini. Saat dimana aku menikmati hidupku dan menanti takdir yang telah dituliskan oleh sang pencipta.

Selesai

Kalau ada ide baru lagi cerita ini akan dilanjutkan.

AKU HANYA "wanita" DRIVER OJEK ONLINE! [Bagian V]




     Masih di hari yang sama. Tepat pukul 15:00 HP ku berdering yang berarti ada orderan yang masuk. Maka dengan segera aku melihat nomornya dan juga segera menelpon.

 "Halo, Betul ini dengan Alfina? Ini dari Ojek Onlien mbak"

"Iya betul mbak, Ini titik saya di depan Mall Jalan Ahmad Yani" Jawab mbak itu.

"Oh iya mbak aku dekat kok, sabar yah Mbak"

"Iya mbak"

     Tak lama kemudian aku pun sampai di lokasi dan bertemu dengan Alfina.

"Mbak Alfina Yanti?" Menatap orangnya.

"Iya betul kak" Sambil naik ke motor.

"Maaf yah Mbak kalau saya datangnya lama, di perempatan sana ada mobil jalannya lelet!"

"Iya kak tidak apa-apa"

     Kemudian kami berangkat. Setelah beberapa saat di tengah perjalanan.

"Kakak ini namanya Arin yang dulu tinggal di Perumahan Mutiara Indah?" Tanya mbak Alfina.

"Iya mbak.. Kok tau sih? Padahal sudah lama loh aku pindahnya Mbak"

"Iya aku tau dong kak, dulu sewaktu kecil aku sering main depan rumah kakak" Katanya dengan suara manja.

"Sering main di depan rumah? Berarti kita tetanggaan?" Kali ini aku mulai penasaran.

"Bukan tetanggaan banget juga kak, Aku tinggalnya di belakang dekat lapangan depan mesjid kak" Jawabnya dengan nada lembut.

"Dekat lapangan depan mesjid??" Sepertinya aku mulai ingat.

"Anak yang suka main dengan sepeda pink yang selalu ditemani kakaknya"

"Hahh? Diaa kan anak kecil waktu itu?" Ucapku dalam hati.

     Sekejap aku menepi dan menekan rem sambil berbalik menatap wajahnya.

"Haaahhh!!! Finaaa!!!" Teriak histeris kegirangan.

"Haii Kak Arin!" Tersenyum sambil mengangkat dua jarinya.

     Fina ini adalah adik Iyan yang waktu itu masih SD dan sekarang sudah dewasa, cantik dan anggun.

"Ihh sekarang kamu sudah besar... Cantik dan tembem pipi nyaaa..." Cubit pipi Fina.

"Aduhh Saakiit kak..." Teriak Fina tersenyum.

"Kak Arin bagaimana kabarnya selama ini?"

     Kemudian kami melanjutkan perjalanan sambil bercerita banyak diatas motor.

"Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat sekarang" Jawabku.

"Kakak tidak berubah, tetap cantik cerewet dan banyak gerak. Kakak juga awet muda loh dari dulu sampai sekarang wajahnya tetap begituu!"

"Ahh kamu bisaa ajaa.. Kakak jadi maluu.."

"Kakak sudah punya anak?"

"Jangankan anak, suami aja belum ada Finn.. Hahaha.." Tertqwa lepas.

"Sammaa dong kak.. Kita sama-sama single!"

"Yeeehh yang nanya kamu juga siapaa??" Dengan nada mengejek.

"Ehh tapi kakak tau gak sih kalau selama ini Kak Iyan masih sering cari tau keberadaan Kak Arin?" Ungkap Fina.

"Apakah ini betul? Apakah Iyan benar-benar mencariku?" Ucapku dalam hati.

"Oh yaa? Tapi Iyan kan sudah punya Istri dan Anak, dia harus menyayangi keluarganya lebih dari apapun" Kataku sambil teriak.

"Kalau itu Kak Iyan juga tau, Dia sayang kok dengan Istri dan Anaknya"

"Syukurlah kalau Iyan bahagia dengan keluarga kecilnya" Ucapku haru dalam hati.

"Kak Arin terakhir ketemu Kak Iyan pasti sudah lama banget kan?"

"Tidak juga... Beberapa hari yang lalu aku ketemu kok, kemarin juga dia hubungi aku bahkan hari ini mau ajak aku ketemuan"

"Kalau begitu Kak Arin ketemu aja sama Kakak.. Pasti dia mau cerita banyak hal"

"Aku sih mau aja Finn tapi aku sedikit takut jika ada yang melihat kami apalagi kalau Istrinya tau aduhh bisa jadi masalah"

"Nggak kak, aku yakin tidak akan ada apa-apa lagian Istrinya Kak Iyan bukan seperti yang Kak Arin pikirkan, dia bukan tipe wanita possesif dan pecemburu kak" Fina begitu meyakinkanku.

"Apakah betul istri Iyan seperti itu? Kalau aku mungkin akan cemburu jika tau suamiku ketemu dengan orang yang pernah dia sayangi" Ucapku dalam hati.

"Iya habis ini aku mau istirahat dulu dan siap-siap untuk ketemu Iyan" Kataku ke Fina.

"Iya Kak... Mungkin ini saatnya Kak Iyan mengatakan sesuatu sama Kak Arin dan mungkin ini cara tuhan mempertemukan kalian kembali sebagai manusia yang pernah punya rasaaa... Hahaha..." Ledek Fina.

"Ihh... Orang juga lagi serius mendengarkan ujung-ujungnya bercanda.. Dasar bocah!"

"Aku serius Kak, mungkin ini saatnya kalian bertemu dan menyelesaikan semua yang terjadi diantara kalian"

"Iya Finn semoga saja bisa cepat berlalu.. Ehh kamu sudah kuliah?"

"Iya kak, baru semester dua"

     Setelah beberapa saat kami pun sampai ke tempat tujuan.

"Kak.. kak... Di depan sebelah mobil putih aku turun disitu saja kak!" Teriak Fina.

"Iyaa oke"

"Makasih yah Kak Arin... Aku jadi gak enak sama kakak... Aku tuh sudah anggap Kak Arin seperti Kakak sendiri"

"Iyaa Iyaa anggap saja kali ini kita sebatas penumpang dan driver ojek online!" Jawabku Ke Fina.

"Ehh.. Gak usah dibayar!! Katanya sudah anggap Kakak masa Adik sendiri harus bayar?" Lanjutku.

"Kan kali ini kita hanya sebatas penumpang dan driver ojek online??" Ledek Fina.

"Lain kali kalau dapat Kak Arin lagi baru deh aku gak bayar" Lanjut Fina.

"Ihhh Dasar Bocah!! (Cubit Pipi) Yaudah deh... Kali ini aku anggap penumpang lain kali kalau mau bayar harga 10x lipat!" Kataku sambil tersenyum.

"Hahahaha.... Iya deh kakak ku sayangku cintaku.. Makasih yah kak..."

"Iyaa dehh sayangkuu.. Aku pergi dulu yahh.. Semoga dilain waktu bisa bertemu lagi!! Dahh..." Kemudian aku beranjak pergi.

     Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Iyan padaku? Apakah ada sesuatu yang tidak aku pahami selama ini? Tapi apa? Sebenarnya apa!?

[Bersambung]




Senin, 08 Oktober 2018

AKU HANYA "wanita" DRIVER OJEK ONLINE! [Bagian IV]





     Setelah seharian beraktifitas akhirnya aku pulang ke rumah dan kembali merebahkan tubuh diatas tempat tidur kesayangan ini.

     Tumben tak ada telepon atau pesan dari Iyan. Mungkin dia sudah menyee...

     Tiba-tiba saja HP ku berbunyi. Baru saja di sebut namanya ehh malah ada teleponnya. Hufft... Apa aku angkat aja yah? Sekalian aku bilang jangan ganggu aku lagi!

     Aku pun mencoba mengangkat telepon dengan nada ketus.

"Hmm.. Iyaa, Halo?"

"Halo Rin... Jangan ditutup dulu, Aku ingin menjelaskan sesuatu Rin!"

"Hmmm.. Jelasin apa lagi?"

"Bagiku semua sudah cukup jelas!" Kataku dengan nada ketus.

"Rin aku ingin bertemu denganmu, kapan kamu ada waktu Rin?"

"Aku gak punya waktu, lagian kalau mau ngomong tinggal bilang aja kalau tidak sanggup bilang kamu bisa chat aku Iyan!"

"Rin... Untuk kali ini saja... Kalau bisa ini untuk yang terakhir Rin.. Sesudah aku menjelaskan semuanya kamu boleh abaikan dan anggap aku tak ada Rin" Kata Iyan dengan lembut memohon padaku.

"Baiklah, Tapi Pliss.. sesudah ini jangan pernah menghubungi atau bahkan masuk ke dalam hidupku lagi!! Dan ingat ini untuk terakhir kalinya kita ketemu!"

     Walaupun sebenarnya aku berharap semoga ini bukan untuk terakhir kalinya.

"Iya Rin aku janji"

"Tidak usah berjanji jika pada akhirnya kamu akan mengingkari!! Besok sore kita ketemu, kamu mau ketemu dimana?"

"Kita ketemu di Taman depan perumahan tempat tinggalmu yang dulu, tempat dimana pertama kali kita bertemu Rin"

"Iya oke, Besok sore jam 5 aku kesana" Kemudian aku menutup telepon tanpa mengucapkan kata lagi.

     Ternyata Iyan masih ingat tempat dimana aku dan dia pertama kali bertemu. Seandainya saja kamu tau Iyan jika selama ini hampir setiap hari aku melewati taman itu dan itu menjadi kenangan tersendiri bagiku.

     Aku tak sabar untuk menantikan hari esok. Semoga saja besok aku tak terbawa perasaan saat bertemu Iyan. Sekarang waktunya membersihkan badan dan tidur.

     Pukul 05:00, Alarm pertama berbunyi.

"Masih ada satu alarm lagi" Memencet tombol HP untuk mematikan alarm.

     Pukul 05:15, Alarm kedua berbunyi.

"Iyaa.. Iyaa.. Aku sudah bangun!!"

     Seperti biasa setelah bangun dan selesai sholat subuh aku biasanya langsung mandi, nonton acara dakwah di tv sambil minum teh dan setelah memasuki jam berangkat anak sekolah aku mengaktifkan akun driverku.

     Entah mengapa pagi ini aku merasa ingin cepat-cepat sore, Aku tak tau apa yang kurasa saat ini, aku ingin hari ini cepat berlalu namun disatu sisi aku juga ingin lebih lama ketika bertemu Iyan.

"Ya tuhan sadarkan aku dari perasaan dan pikiran seperti ini, Aku takkan pernah bisa seperti apa yang aku inginkan dan aku takkan pernah bisa bersamanya dan semua takkan pernah bisa termasuk memperbaiki hati dan perasaan ini!!"

     Pukul 10:57, Di cafe depan Halte seberang Mall.

"Hai Arin"

"Hai Kak Arin"

     Secara bersamaan mereka Risma dan Romi yang juga seorang driver menyapaku.

"Heh? Kalian disini juga? Ini kebetulan atauu kaliaan?? Cieee..." 

"He'ehh.. Apaan sih kak... Kebetulan aja kalii..." Kata Risma yang malu.

"Tau tuh si Risma ikut-ikutan singgah disini" Kata Romi menggoda Risma.

"Ihhh... Kok aku sih Rom... Aku kan gak tau kamu juga disini" Ekspresi wajah Risma yang mengejek.

"Sudah.. Sudah.. Kalau orang sering bertengkar nanti lama-lama bisa suka loh" Aku pun ikut menggoda Risma.

"Memang kamu suka yah sama aku Risma?" Tambah Romi.

"Ihhh... Pede buangeett sih kamu Romi..." Kata Risma yang malu.

"Kalian ini Lucu deh! Hehehe"

"Ehh Rin kamu sudah dapat orderan berapa?" Tanya Romi padaku.

"Baru tiga, habisnyaa jarak dan rutenya jauh nan macett" Jawabku mengeluh.

"Bersyukur aja deh Rin kalau rejeki itu tidak akan kemana, Begitu juga dengan jodoh.. Iya kan Risma?"

"Iyaa.. Ehh kok tanya ke aku sih? Ihh.. Kamu sengaja yahh.."

"Hahahaa... Kode tuh Risma!" Sambil ku lirik Si Risma.

"Ehh teman-teman maaf yah aku duluan, Ada orderan masuk nih.." Kata Romi.

"Sampai ketemu lagi, Ehh.. Risma semoga kita bertemu lagi untuk kedua kalinya.. hahaha..." Lanjut Romi.

"Ishh.. Coba aja cari aku sampai dapat!" Kata Risma yang mulai ketus.

"Hahaha.. Iya Rom.. Hati-hati yah semoga berkah!" Teriakku ke Romi.

"Ehh Aku juga sudah dapat orderan nih kak.. Kalau begitu aku juga berangkat yah!" Kata Risma yang juga dapat orderan.

"Cieee... Datangnya sama perginya juga sama-sama..." Teriakku kepada mereka.

"Hmm.. Hmm... Yuk Risma.. Kita berangkat.." Teriak Romi kepada Risma.

"Hufft... Yah sudahlah..." Keluh Risma sambil berjalan ke arah parkiran.

"Bye kaliaan!!"

     Setelah bertemu dan bercanda dengan mereka aku melanjutkan aktifitas seperti biasanya dan sungguh aku tak sabar ingin segera bertemu dengan Iyan di sore ini.

[Bersambung]










AKU HANYA "wanita" DRIVER OJEK ONLINE! [Bagian III]





     Hari ini yaitu hari kamis. Seperti biasa setelah meneyelesaikan beberapa orderan di pagi hari biasanya aku menyempatkan diri untuk sekedar istirahat di sebuah cafe. Tepat pukul 10:16, aku memasuki cafe sambil memesan minum dan duduk di salah satu bangku. Dari arah depan terlihat seorang wanita mengenakan seragam ojek online mengarah tepat di hadapanku.

"Boleh aku duduk disini?" Kata wanita tersebut.

"Iya boleh" Jawabku.

"Ehh.. Kak Arin??" Katanya sambil menunjuk ke arahku.

"Almirahh?" Sambil ku tatap jelas wajahnya yang tidak asing bagiku.

     Aku pun berdiri memegang dan berpelukan dengannya sambil saling teriak girang melepas rindu.

"Wahh... Sudah lama yah kita tidak bertemu semenjak kamu sudah melahirkan" Kataku pada almirah.

"Iya nih kak, ehh kak Arin lagi istirahat apa lagi menunggu seseorang?"

"Yah seperti itulah, Aku mau sarapan nih tadi pagi lupa karena semangat terlalu membara, hahaha, ehh bagaimana kabarmu selama ini? Anakmu sehat kan?"

"Alhamdulillah aku baik kak dan juga si dera alhamdulillah sehat kak. Dia sudah bisa sebut kata mama loh... Aku sih berharap suatu saat dia tidak pernah bertanya tentang bapak nya.. hahaha..."

"Kasihan yah anak kamu Mir tiap hari kamu tinggal dan juga dia tidak pernah rasa Kasih sayang bapak nya, aku sedih loh Mir..." Kataku dengan sedikit sedih.

"Ahh tidak masalah kok kak, lagian aku titip dia sama Ibu ku. Tenang aja kak masih banyak bapak-bapak diluar sana yang terpesona dengan mama nya, huhuhuii..."

"Ihhh... Kamu yah masih aja genit seperti duluu, nanti si mantan suami yang terpesonaa, hahaha"

"Iyaa dong kak kalau gak begini nanti gak lakuu deh.. Upsss!! Hahaha" Menatap dan meledekku.

"Ihh apaan sih, suka gitu deh sama aku" Aku tersenyum malu.

"Yaudah dehh kakak cantikkuu aku mau lanjut dulu yeehh.. Kakak makan yang banyak karena baper itu butuh banyak tenagaaa.. hahaha"

"Ihh... Sanaa sanaa pergiii..."

"Ehh Miraa... Bagi nomor WA kamu dong, Lama kita tidak berkomunikasi.. Kamu sih suka gonta ganti nomor!"

"Iya kak aku masih simpan nomor kak Arin, Coba cek HP nya itu nomorku kak.
Oke yah Kak Arin? Byee Cuantikk!!"

     Kemudian Almirah berlari sambil melambaikan tangannya. Tapi tunggu ada yanh aneh!

"Hehh! Heiii Almirah!! Miraah!!" Teriak Kencang.

     Mendengar teriakanku Almirah pun berbalik dan kembali berlari menuju ke arahku sambil tertawa keras.

"Hahahaaa..." Tawa keras Almira.

"Nih anak lalod nya gilaa makin parah tingkat dewaaa... Malah ketawaaa..
Kamu tadi kesini mau apa? Numpang duduk disini buat apa?? Hah? Malah pamit langsung lari" Kataku sambil senyum meledek padanya.

"Iyaa aku lupaaa.. Tadi juga lagi pesan makan dan mau makan.. hehehe" Dengan ekspresi tak bersalah.

"Yeehh dasar oon bin lalod!"

     Beberapa menit kemudian disaat kami lagi asyik makan tiba-tiba Almirah bertanya sesuatu.

"Kak Arin!"

"Hmmm" Jawabku.

"Kak Arin pernah pacaran gak sih?"

"Nanya kok yang begituuan? Mau ngejek lagi kamu?"

"Tidak kak ini serius, Selama kita kenal Kak Arin tidak pernah cerita masalah asrama alias Asmaranya kakak" Tampaknya Almirah serius bertanya.

"Dulu aku pernah punya pacar. Kami juga pacarannya cukup lama kok. Ahh.. itu tidak penting untuk diceritakan" Sambil ku lanjutkan mengunyah.

"Cukup lama pacaran? Kok kakak putus? Apa ada ornag ketiga alias pelakor?"

"Hmmm.. Bisa dibilang iya tapi dia bukan pelakor juga sih"

"Maksud kakak?" Dia menatapku serius.

"Jadi dulu itu kami masih pacaran belum ada kata putus tapi tiba-tiba dia menikah dengan wanita lain, aku pun tidak pernah tau alasannya hingga akhirnya kami tidak saling berhubungan dan berkomunikasi dalam waktu yang lama.. Yahh begitulahh"

     Mendengar ceritaku nampaknya membuat Almirah penasaran. Kebetulan Almirah ini dulu tempat aku berbagi kisah dan keluhan maka dari itu aku juga menceritakan segalanya pada Almirah.

"Maaf yah kak aku nanya begini tadi aku kira kakak mau jawabnya bercanda tapi maaf yah kak"

"Iya tidak apa-apa lagian kalau dipendam sendiri bisa jadi beban juga. Lagian kamu kan bukan orang yang baru dalam hidupku"

"Iya kak, Aku juga pernah melewati masa sulit dalam menjalin suatu hubungan, Kakak tau kan saat aku hamil suamiku pergi dan memilih selingkuhannya dibanding aku? Dan kakak juga kan yang dulunya tempatku bercerita dan menangis"

"Tapi kenapa dulu Kak Arin tidak pernah cerita padaku tentang ini kak?" Lanjut Almirah.

"Bagaimana bisa aku cerita sama orang yang juga pikirannya banyak beban dan masalah? Kamu aja dulu punya banyak masalah masa iya aku tambah dengan cerita masalahku"

"Iya juga sih kak, Tapi kakak terakhir ketemu atau berkomunikasi dengan dia kapan?"

"Aku terakhir ketemu kemarin pagi dan terakhir berkomunikasi juga kemarin" Aku sambil tersenyum menatap Almirah.

"Kak yang oon dan lalod disini siapa yah? Kok aku bingung?"

"Yah dodoll... Jadi ceritanya beginii.."

     Aku Menceritakan Tentang Kejadian Kemarin Kepada Almirahi dan dibalik lalodnya ternyata Almirah orang yang paling paham dengan perasaan dan kisahku ini.

"Kak memang kita itu wanita tapi kita juga tidak boleh lemah apalagi dengan mudah mengeluarkan air mata hanya untuk orang yang belum tentu hatinya untuk kita. Angkat kepalamu princess!! Jangan biarkan mahkotamu terjatuh! hahaha.." Sebuah kata bijak dari Almirah.

"Aku tuh harus banyak belajar sama kamu Mirah"

"Kak masih banyak pria diluar sana yang bisa menerima kita, Kakak kurang total sih kalau berhadapan dengan cowok!"

"Kak Arin jangan terlalu memikirkan dia, Kalau Kak Arin tidak bisa Maafkan maka cukup Lupakan, Kalau Kak Arin tidak bisa Lupakan cukup Maafkan saja kak. Kalau sudah merasa legah maka Kak Arin harus Lepaskan dan Lupakan!" 

     Entah Almirah sadar dengan ucapannya namun baru kali ini aku mendengar kata mutiara dari orang seperti dia. Aku merasa terharu mendengarnya 

"Mirah apakah ini adalah dirimu yang sebenarnya? Kamu membuat mataku menahan tetesan air mata, Kamu yang selama ini aku anggap adik kecil yang lalod ternyata punya pikiran lebih dewasa dariku"

"Makanya menikah dong kak supaya lebih paham tentang hubungan dan juga tentang pria, hahaha.." Menatapku dengan ledekannya.

"Iyaa doakan saja semoga aku bisa dapat yang terbaik" 

"Ehh menikah itu enak loh kak tiap malam bisa dipeluk, dibelai, dimanja" Sambil berbisik ke arahku sambil melanjutkan berkata, 

"Tapi sekarang aku Jarang Dibelai, Kering dan Ahh sudahlah... Entar juga Kak Arin tau rasanya"

"Ihh apaan sih kamu ini jorok deh!" Sambil tersenyum malu sebenarnya aku juga sedikit membayangkan.

     Suasana hatiku pun kembali senang dan ceria setelah mendengar cerita dan saran dari Almirah. Tanpa terasa kami menghabiskan banyak waktu melepas rindu maka setelah percakapan itu kami pun berpisah untuk melanjutkan pencarian rejeki kami.

     Sesaat sebelum meninggalkan cafe ku tatap HP ku yang terus bergetar. Yah lagi-lagi telepon dari Iyan. Aku abaikan aja, atau aku blokir aja yah nomornya? Biarkan aja dia menelpon sampai bosan, kalu bosan tidak ada tanggapan pasti juga berhenti sendiri...

[Bersambung]







AKU HANYA "wanita" DRIVER OJEK ONLINE! [Bagian II]




     Semalam Iyan menelpon. Aku mengabaikan dan tak mengangkat telepon hingga aku ketiduran namun keesokan harinya aku melihat hanya ada 4 Panggilan tak terjawab dan satu pesan.

     Aku membuka pesan, pesan ini baru saja beberapa menit yang lalu dan ini pesan dari Iyan.

"Pagi Mbak" Isi pesan tersebut.

"Iya pagi juga, ini siapa yah?" Aku berusaha seolah tak mengetahui pesan ini darinya.

"Aku Iyan mbak yang kemarin pagi mbak antar ke kantor dekat stasiun"

"Oh iyaa, ada apa yah pak?" Masih dengan seolah-olah.

"Mbak ini alamatnya dimana?"

"Aku alamatnya di Jalan Macan Kelurahan Belimbing, Kenapa pak?"

"Kalau boleh tau nama aslinya Mbak siapa?"

"Nama saya sesuai dengan yang tertera di aplikasi kemarin Pak" Jawabku singkat.

"Arin Putri Senja?"

"Yupp... Betul pak!" Jawabku.

"Mbak ini mirip seperti mantan saya, sangat mirip Mbak!"

"Lahh.. Emang iya Pak.."

"Maksud Mbak?"

"Memang betul bapak itu mantan saya!"

"Sebenarnya aku sudah tau dari awal makanya aku lebih memilih bicara seadanya tanpa banyak berkomunikasi dengan kamu"

     Akhirnya aku jujur padanya dan dia pun mengetahui siapa aku.

"Kenapa kamu tidak berbicara banyak padaku? Biasanya kamu itu cerewet Rin..." Balas Iyan.

"Aku sengaja irit bicara kalau kamu tau siapa aku nanti kamu kembali merindu, Yang ada nanti kamu memelukku, apa kamu gak malu memeluk wanita di tempat umum dan lagian aku ini kan bukan muhrim bagimu dan lagipula kamu juga sudah punya Istri dan Anak Iyan"

     Dalam hati aku berkata, sebenarnya aku juga merindukanmu Iyan namun apalah dayaku ini.

"Iya setidaknya kamu bicara atau cerita tentang bagaimana dirimu saat ini Rin" Balas Iyan.

"Kamu mau aku bercerita tentang diriku selama ini? Apa aku gak salah baca? Emangnya kamu mau merubah yang terjadi dalam hidupku?"

     Aku balas dengan sedikit marah karena mengingat kisah yang telah lalu.

"Loh kok kamu ngomongnya begitu sih... Kamu jahat deh Rin.. Kamu gak seperti yang dulu lagi" Balas Iyan yang sepertinya prnuh sesal.

"Hahh Jahat katamu? Jahat bagaimana? Disini yang harusnya bilang jahat itu aku yah... Kamu tinggalin aku nikah disaat aku lagi sayang-sayangnya sama kamu! Apakah itu bukan jahat namanya? Apakah menurutmu itu baik??"

     Perasaanku saat ini sangat menggebu-gebu ingin mengatakan dan mengeluarkan segala kekecewaan dan amarah yang selama ini ku pendam!! Meskipun sebenarnya aku tak sanggup.

"Loh soal itu kok kamu masih ingat sih Rin?"

"Iya pasti ingatlah!"

     Dengan sabar aku harus menahan semuanya. Aku harus berusaha tampak move on dengannya.

"Ehh Iyan, sudah dulu yah aku mau kerja menjemput rejeki, aku tak ada waktu untuk bahas masa lalu lagi, bye.."

     Dengan perasaan yang tertahan aku kembali melangkah untuk menjemput rejeki. Ku aktifkan akunku dan ku simpan HP yang satunya ke dalam tas kecilku berharap tak lagi ada pesan atau telepon dari Iyan.

     Tepat pukul 10:47 masih di hari yang sama setelah menyelesaikan beberapa orderan. Sambil beristirahat di depan sebuah ruko aku membuka HP yang satu dan Lahh!! Ada satu pesan dan lagi 4 Panggilan tak terjawab! Ini pesan dan telepon dari Iyan!

     Aku mulai jengkel padanya dan aku pun mengirim pesan kepadanya.

"Bisa gak jangan terus telpon2 aku? Aku ini lagi kerja, aku gak ada waktu untuk bicara.. Kalau mau ngomong chat aja gak usah nelpon! Dan jangan basa basi langsung aja mau ngomong apa?" Aku mengetik dengan ekspresi wajah jutek!

     Hanya beberapa menit saja Iyan pun membalas.

"Iya.. Maaf kalau aku sudah ganggu kerjaan kamu Rin.. Aku cuma mau minta maaf atas kejadian di masa lalu Rin.. Aku memang salah tapi tolong jangan benci aku apalagi sampai dendam.. Aku juga manusia Rin yang punya perasaan.. Seandainya waktu bisa kuputar mungkin aku tak akan melakukan hal seperti ini Rin..."

     Ini kesempatanku untuk mengatakan semuanya kepada Iyan, dengan kecepatan mengetik aku mengungkapkan semuanya lewat pesan ini.

"Aku tak pernah benci atau dendam sama kamu. Seandainya aku benci atau dendam mungkin kemarin saat aku mengantar kamu di motor mungkin aku sudah mencaci maki dirimu dan meluapkan semua emosi kepadamu"

"Tapi aku masih professional dalam bekerja, aku hanya menganggap kamu sebagai penumpang"

"Iyan.. Mulai sekarang kamu tidak perlu pusing atau pikir lagi kesalahan kamu di masa lalu.. Sekarang itu yang terpenting kamu fokus sama keluarga kecil kamu.. Sayangi Istrimu dan juga Bidadari Kecil mu yang cantik 😊"

"Sekarang ini kamu adalah seorang Ayah dan Pemimpin Keluarga. Kamu bukan Anak Muda lagi Iyan"

"Aku juga tak mau menjadi perusak Rumah Tangga kalian. Aku ini wanita baik-baik, Aku takut dibilang Pelakor Iyan"

     Dengan panjang lebar mengetik akhirnya aku juga masih tak mampu berkata kasar ataupun memaki Iyan. Kemudian Iyan juga membalas dengan penjelasannya.

"Tapi Rin... Aku gak bisa melupakan kesalahanku dimasa lalu... Selama ini aku berusaha mencari kontakmu namun tak pernah berhasil Rin"

"Kemarin saat kamun menelpon tanpa sengaja nomor mu tersimpan dan tersambung ke WA aku saat ingin memberi Bintang aku perhatiin nama dan foto kamu Rin"

"Makanya aku beranikan diri untuk WA kamu meskipun aku merasa sangat malu, merasa sedih dan merasa bersalah kepadamu Rin..."

     Setelah penjelasan Iyan itu aku pun kemudian membalas dengan terbawa suasana perasaan ditambah lagi dengan terik matahari yang sudah mulai panas.

"Ohh sekarang kamu sudah bisa merasakan? Sudah bisa berpikir? Kamu sudah rasa yang namanya menyesal? Kamu juga rasakan sedih? Gimana Rasanya? Enak?? Enggak kan Iyan? Iyan coba deh kamu pikir dan rasa bagaimana jika berada di posisi aku yang dulu??"

"Masih teringat jelas kata terakhir yang kau ucapkan padaku meskipun itu juga hanya lewat pesan singkat kamu berkata "KAMU PASTI BISA TANPAKU, AKU YAKIN KAMU BISA BAHAGIA DAN KAMU PASTI BISA DAPATKAN YANG JAUH LEBIH BAIK"

"Tapi aku bersyukur sekarang itu semua terbukti, sekarang aku bisa tanpamu, aku bahagia dan aku juga sudah mendapatkan yang jauh lebih baik dari kamu Iyan"

"Iyan kita bisa kok sama-sama bahagia... Kamu cukup bahagia dan menyayangi keluargamu dan aku tinggal menghapus semua kenangan di masa lalu 😊"

"Sudah dulu deh Iyan... Aku mau kerja dulu.... Aku mohon jangan hubungi aku lagi.. Aku tak mau disebut apalagi dianggap Pelakor!!"

     Aku merasa sedikit legah telah mengatakan beberapa kata meskipun itu hanya melalui pesan singkat melalui WA.

"Apakah kamu sudah puas dengan kata-katamu itu Rin? Silahkan Rin kamu boleh kok caci maki aku sepuas hatimu, Rin saat ini aku bersedih, aku menangis membaca kata-katamu Rin..."

"Kalau memang aku tidak merasa bersalah padamu mana mungkin aku mau menghubungimu Rin?"

     Untuk saat ini aku harus mengakhiri percakapan ini sebelum mempengaruhi kerja hari ini namun sepertinya ini sudah merubah moodku untuk melanjutkan pekerjaan.

"Ahh Sudahlah Iyan.. Aku juga tak perlu ungkit yang pernah terjadi padaku dimasa lalu. Semua orang tau kok bagaimana yang aku alami disaat itu"

"Apa lagi yang mau kamu katakan Iyan? Katakan saja semuanya... Kamu ketik aja dulu semuaa... Nanti kalau ada waktu pasti aku balas, Untuk sekarang aku gak bisa Iyan aku sibuk dan sekarang lagi ada orderan! Makasih!"

Setelah percakapan itu, air mataku pun menetes dibalik kaca helem hitam yang tertutup rapat.

[Bersambung]


Minggu, 07 Oktober 2018

AKU HANYA "wanita" DRIVER OJEK ONLINE! [Bagian I]





        Aku Arin seorang driver ojek online, meskipun aku seorang wanita bukan berarti aku harus bersikap seperti seorang putri kerajaan yang harus tinggal di rumah menunggu dan malas-malasan. Aku juga seorang sarjana dari universitas negeri ternama. Banyak yang berkata kenapa aku menjadi tukang ojek online padahal aku seorang sarjana? Aku telah mencoba untuk melamar di beberapa perusahaan namun tak jarang yang menolak karena jurusan yang tak sesuai, ada yang menolak dengan alasan ukuran tinggi bahkan ada yang mengharuskan melepas hijab. Bagiku untuk kerja tak harus menggadaikan agama apalagi harus dengan cara riba. Kenapa aku menjadi driver ojek online? Karena aku sadar kebutuhanku banyak dan aku tak mau memberatkan kedua orangtua. Sambil mencari kerja daripada tinggal bermanja-manja terus meminta apa salahnya punya penghasilan sendiri lagian aku juga hobby nya berkendara keliling kota. Hehehe...


        Setiap pagi aku memulai aktifitas dengan mengaktifkan akun driverku dan tak butuh waktu lama pasti ada orderan yang masuk.
Seperti halnya pagi ini...

        Dering HP ku sangat jelas terdengar pagi ini. Betapa senangnya hatiku ketika mendengar dering HP di pagi hari. Langsung aku mencari nomor telepon si doi tanpa melihat namanya aku pun mencoba menelponnya.

Pagi ini semoga berkah!

"Halo..." Dengan nada lembut.

"Iya, haloo selamat pagi mbak.."

"Pagi bapak, kalau boleh tahu posisi bapak dimana?"

"Di jalan setia kawan nomor 23b mbak" Jawab si bapak itu.

"Iya pak, ditunggu yah pak!"

        Aku pun menutup telepon dan segera bergegas menuju lokasi untuk menjemput rejeki di pagi hari. Sebelum menuju lokasi aku memperhatikan titik lokasinya dan aku membaca nama si bapak. Namanya Iyan Riza? Jangan-jangan dia? Positif saja mungknin hanya mirip.

        Setelah mengikuti arahan dari Maps akhirnya aku sampai di lokasi dan dugaanku benar.

"Betul bapak iyan?" Dengan helm tertutup aku bertanya.

"Iya mbak, ayo kita berangkat!"

"Maaf pak ini helmnya dipakai biar aman dan selamat sampai tujuan" Kataku dengan sopan.

"Iya mbak terimakasih" Jawabnya dengan sopan.

        Selama perjalanan kami hanya terdiam namun tak lama kemudian Iyan memulai percakapan.

"Mbak sudah lama jadi driver ojek online?"

"Iya lumayan pak!" Jawabku singkat.

"Mbak memang tiap pagi keluar yah?"

"Iya pak, kadang malam baru pulang ke rumah. Oh iyaa pak di depan perempatan setelah stasiun belok kanan disitu kantor bapak kan?"

"Iya mbak"

        Kemudian kami sampai di tempat tujuan. Aku bergegas menatap HP untuk menekan tombol penyelesaian.

"Terimakasih yah mbak, kembaliannya disimpan aja" Kata Iyan dengan Ramah.

"Iya pak terimakasih, jangan lupa diberi bintang lima yah!"

        Tadi aku menatap wajahnya dengan sangat jelas, ini semua nyata. Dia adalah Iyan seorang pria yang dulu pernah mengisi hatiku dengan kebahagiaan dan juga... Kesedihan!!

        Seperti biasa setelah aku mengantar beberapa penumpang biasanya aku singgah di sebuah kantin yang juga sering ditempati oleh driver ojek online lainnya. Beberapa dari mereka juga akrab denganku.

        Setelah di kantin aku mengecek HP dan ku lihat beberapa panggilan tak terjawab. Lahh!! Ada 4 panggilan tak terjawab? Siapa yah??

        Ini kan nomornyaa Iyan? Kenapa dia? Apakah ada ketinggalan? Aku tak ingin menghubunginya, nanti dia tahu siapa aku kalaupun dia tahu aku tak mau lagi menjalin komunikasi dengannya! Kalau begitu aku akan menunggu telepon atau chat darinya lagi.

        Setelah beberapa saat aku menunggu tak juga ada telepon atau chat darinya maka aku kembali mengaktifkan akunku dan tak lama orderan pun kembali masuk. Maka kembali lah aku ke jalanan untuk menjemput rejeki.

        Tepat pukul 11:35 setelah menyelesaikan beberapa orderan aku mencoba untuk menceritakan hal ini kepada Risma yang juga seorang driver ojek online. Maka tak butuh waktu lama aku mencoba menghubunginya via WA.

"Haloo... Rismaaa"

"Iyaa kak!" Jawabnya dengan keras

"Kamu dimanaa?"

"Habis antar penumpang kak, Sekarang lagi di Jalan Ahmad Yani kak, rencana mau ngopi nih.." Jawab Risma dengan semangat

"Oh iyaa kamu mau ngopi dimana? Aku mau cerita nih"

"Iya deh kak aku tunggu di Cafe Ijo yah kak!"

"Oke aku tak jauh dari tempat itu, kita ketemu disana, bye"

        Pukul 11:47 aku telah tiba di Cafe Ijo dan segera mengambil tempat sambil menunggu Risma.

"KakArin.. Disini!!" Sambil melambaikan tangannya.

"Heyy Rismaaa... Aku mau cerita sesuatuu" Suara sedikit pelan.

"Kamu tau gak tadi aku dapat orderan dari siapa?" Ekspresi Serius.

"Dari siapa kak? Pak Jokowi? hahaha"

"Bukan bapak jokowi juga keless"

"Aku dapat orderan dari pria yang bernama Iyan"

"Apa hebatnya pria itu? Dia tampan? Atau jangan-jangan kakak suka yah??" Ekspresi meledek.

"Iya sih sukaa... Tapi itu duluu... Tapi semenjak tragedi itu aku bahkan mulai lupa siapa dia hingga akhirnyaa dia datang dan membuatku mengingat kembali semua yang pernah ku alami"

"Maksudnya kakak pernah suka sama dia? Atauu dia itu mantan kak Arin?"

"Yahh begitulah.. (Mengangguk Senyum) Tapii... Ahh sudahlah kami sudah tak ada hubungan lagian dia juga sudah menjadi milik orang lain" Kataku sambil melanjutkan,

"Ehh tadi dia nelpon... Jadi kan begini.. tadi aku menerima orderannya walaupun aku tau itu dia tapi aku saat menjemputnya aku memakai masker dan kaca helemku tertutup. Awalnya dia tidak curiga dan mungkin tidak memperhatikan fotoku di aplikasi tapi saat mau memberi Bintang mungkin dia tersadar dan akhirnya menelpon"

"Kenapa kakak tidak angkat telponnya? Siapa tau aja dia mau curhat atau mau CLBK sama kakak, hahaha"

"Ahh kamu bisa ajaa... Tadi aku di jalan jadi tidak merasakan getaran HP ku pas sudah singgah baru deh aku lihat beberapa panggilan ta terjawab darinya. Aku mau nelpon balik tapi aku malu begitu aku mau tanya lewat chat juga aku malu Riss. Menurut kamu aku harus bagaimana?"

"Kalau aku sih kak, kita ini kan wanita jadi kita jangan mau memulai duluan, kita memang harus menunggu meskipun terkadang menunggu itu menyakitkan" Kata bijak dari Risma.

"Kamu curhat yah Riss? Hahaha"

"Sepertinya sih begitu kak... Hahahaa...
Kak Arin tunggu aja telpon berikutnya, kalau kakak ragu bicara apa salahnya kakak balas dengan chat aja kak"

"Kalau aku sih maunya juga begitu tapiii... Ada sesuatu yang membuatku malu dan juga tidak bisa aku cerita kepada siapapun untuk saat ini Riss"

"Yaudah deh kak, kalau kakak butuh teman cerita aku selalu siap kok kak!"

"Iya deh Risma, aku tuh sayang deh sama kamuu" Kemudian kami berpelukan.

        Tak lama setelah itu kami pun kembali melanjutkan aktifitas di jalanan. Hingga senja mulai berakhir aku kembali ke rumah untuk istirahat sejenak.

        Akhirnyaa setelah seharian beraktifitas akupun bisa rebahan di tempat tidur. Sambil melompat ke atas kasur aku teringat akan telepon Iyan. Ketika ku tatap Layar HP ku tiba-tiba saja berdering dan akhirnya Iyan menelpon!

        Apakah aku harus mengangkat dan berbicara padanya?

[Bersambung]

Buat kakak yang fotonya diatas maaf tanpa izin mengambil fotonya di Google




Selasa, 27 Februari 2018

LOVE DIFFERENT RELIGION (Cinta Beda Agama) Bagian II






    
        Dari sebuah buku yang pernah aku baca katanya Cinta itu ibaratnya sebuah barang, Agama itu distributor dan Tuhan itu produsenya dan katanya semua tergantung produsennya mau diapakan barang tersebut? Aku tidak pernah berpikir jika itu sebuah kebenaran hingga akhirnya aku sendiri yang mengalaminya.

        Aku tidak pernah beranggapan bahwa Agama bisa memainkan peran besar dalam hidupku. Aku tumbuh seperti anak wanita nasrani yang lainnya yang juga merayakan liburan, ibadah "Kristen" seperti Paskah dan Natal. Aku senang dengan hidupku dan aku senang berteman dengan siapa saja tanpa membedakan status dan Agama hingga pada suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang akhirnya merubah cara berpikir dan perasaanku.

        Pertama kali bertemu dengannya disebuah ruangan aula di kampus. Saat itu dalam agenda penerimaan mahasiswa baru antar jurusan kami pun secara bergantian sesuai urutan nama memperkenalkan diri. Sambil menunggu giliran aku berbalik hanya sekedar ingin melihat beberapa orang yang nantinya akan menemani hariku di kampus. Dari arah kiri tiba-tiba pandanganku terhenti seketika karena saat itu mata salah satu anak laki-laki tertuju padaku kami saling memandang dan aku mencoba memperkenalkan diri melalui senyuman walaupun merasa malu. Tak hanya sekali, aku sesekali berbalik hanya untuk memastikan dan merekam wajahnya meskipun harus selalu tersenyum ketika dia menyadarinya.

        Beberapa hari setelah pertemuan itu aku pun semakin dekat dengannya, dekat dalam artian sering sekelas, ikut kegiatan kampus juga sama-sama bahkan sering satu kelompok juga bahkan pernah dihukum bersama karena terlambat. Kita mempunyai beberapa persamaan salah satunya dalam hal menulis cerita dan bercanda. Terkadang jika kami bertemu kebanyakan hanya bercanda, tertawa dan saling menjahili. Persamaan itu lah yang membuatku nyaman hingga aku lupa akan perbedaan, perbedaan yang menjadi pembatas bagaikan tembok yang sangat sangat besar, perbedaan itu disebut Agama. 

        Jujur ku akui bahwa aku jatuh Cinta kepada Gunawan yang tak lain adalah sahabatku. Aku tahu perasaannya sama denganku, aku tahu manisnya hubungan ini bagaikan madu di dalam botol. Bagiku jatuh cinta dengan cara Kristen adalah dengan mengatakan, "Aku senang akan pertemuan ini dan aku senang dan juga ingin menjadi bagian dari masa depanmu. Meskipun ini akan sulit tapi aku ingin kita sampai disana." Namun aku sadar sebagai manusia ciptaan Tuhan dan harus aku katakan "Mungkin kita hanya ditakdirkan untuk bertemu namun bukan untuk bersama."

        Aku teringat disaat aku dengan manja memintamu mengajakku jalan-jalan di hari libur tepatnya di hari minggu. Dengan sabar kamu menelponku dan berkata "Aku Sholat dulu yah, nanti aku jemput kamu setelah kamu pulang Gereja." Saat itu hatiku sangat tersentuh. Kamu memilih Agamamu dan Aku pun demikian. Kita tak harus munafik akan rasa yang tak terbahasakan ini. Meskipun kita bagaikan Assalamualaikum dan Shallom namun aku juga yakin seperti kamu yakin pada Amin kita yang sama. 

        Agama itu memang penting, aku tahu kamu juga berpikir demikian kan? Untuk itu kita harus membicarakannya dan ternyata benar kita memang berada di halaman yang sangat berbeda. Jadi apakah aku harus mengakhirinya? Aku benar-benar tak tahu jawabannya. Aku hanya bisa pasrah berlutut memohon yang terbaik pada tuhan demi Kamu, Agamaku dan Tuhanku. 

        Aku tak pernah sadar bahwa aku benar-benar peduli. Sekarang aku peduli pada Agamaku dan aku juga tak dapat berbohong jika aku juga peduli denganmu. Kehadiranmu telah merubah caraku berpikir dan caraku merasakan rasa. Ku harap kita tetap bisa seperti ini walaupun tak ada kata yang terucap cukup batin yang merasa. Suatu saat kita tak bersama lagi ku harap kamu tetap selalu ingat akan Agama, Tuhan dan Cinta yang tak pernah terbahasakan diantara kita. 

Kisah Fiktif ini Rencananya mau dilanjut ke bagian III jjikalau ada Pembaca yang menyetujui dan memberi tambahan ide cerita.. 
TTerimakasih... 

Senin, 26 Februari 2018

LOVE DIFFERENT RELIGION (Cinta Beda Agama) Bagian 1


             
            Sungguh tak pernah ku sangka dari mana arahnya perasaan ini datang menghampiriku. Bagaikan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka yang dikirimkan tuhan kepadaku. Aku percaya bahwa Allah SWT tidak pernah ingkar atas apa janji dan rencana yang telah ia tetapkan pada hambanya. Begitu pula tentang perasaan Cinta hambanya kepada sesama makhluk ciptaannya.
            
                     Katanya mustahil untuk kita bisa bersama karena katanya cinta beda agama itu haram. Aku berani bersumpah jika perasaanku ini mengartikan rasa suka kepada Raline. Jujur aku mencintainya bahkan aku juga bisa mengetahui dengan jelas perasaannya kepadaku. Kami saling mencintai dalam diam, memendam rasa dalam tawa dan saling menyayangi dengan batas. Batas yang dinamakan Agama. Dalam hati kami selalu bertanya mengapa tuhan menciptakan perbedaan kalau memang itu haram?
       
                Dari awal masuk kuliah disaat pertemuan pertama dengan beberapa teman-teman baru yang berasal dari berbagai suku dan agama aku merasa jika salah satu dari teman wanita ada yang menarik perhatianku karena tatapan dan senyumannya. Sesekali kami saling menatap tanpa sengaja meskipun hanya beberapa detik namun disaat dia menyadari terkadang dia tersenyum malu bahkan beberapa kali senyumannya langsung mengarah kepadaku.

            Tak butuh waktu lama untuk bisa mengetahui nama dan asal usul nya. Aku mengetahui beberapa hal tentang Raline karena beberapa kali aku selalu dipertemukan di kelompok yang sama dengannya bahkan seringkali kami ditunjuk berpasangan untuk mewakili kelompok bahkan mewakili beberapa teman-teman. Sejak saat itu aku akrab dengannya tak jarang kami saling menghubungi hanya sekedar bercanda dan saling curhat melalui media sosial. Namun sekali lagi kami hanya bisa memendam rasa yang tak terucap. Kami saling mengetahui rasa namun malu saling berucap itu karena kami berbeda keyakinan.

                Disaat aku membaca Al Quran terkadang aku teringat akan dirimu disana yang membaca Al Kitab. Disaat ku langkahkan kaki ku menuju Masjid aku pun teringat akan langkahmu  menuju Gereja. Disini tangan ini menggenggam tasbih dan disana kamu mengenakan kalung salib. Disaat kamu melantunkan pujian aku tak hentinya berucap Shalawat. Disaat kamu menggenggam tanganmu untuk berdoa disini aku juga mengangkat kedua tanganku untuk berdoa. Aku berdoa kepada tuhan untuk merubah takdir yang telah dituliskannya padaku walaupun aku mengetahui jika semua ini takkan merubah apapun.

               Aku selalu berharap kita bisa bersatu karena cinta namun kenyataannya tidak. Kita bisa  bertemu karena cinta dan takdir namun cinta dan takdir ini tak dapat membuat kita bersatu. Mengapa kita hanya bisa bertemu namun tak bisa menyatu? Mengapa Agama menjadi sekat diantara dua orang yang cintanya begitu melekat? Aku pernah berpikir bahwa Jodoh itu tuhan yg atur bukan Agama. Meskipun orang berkata untukmu Agama mu dan untuk ku Agama ku tapi aku yakin perasaan kita satu.

      Kita saling mendoakan meskpun tak bisa dipertemukan oleh tuhan. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kita juga tak dapat memaksakan keinginan apalagi menuruti nafsu. Apakah kita harus jatuh pada pilihan berhenti? Aku tak pernah mengetahui jawaban beberapa pertanyan yang selalu menghantui pikiranku.

     Aku tak pernah peduli entah bagaimana akhir dari semua ini, aku tak bisa mengetahui apakah kamu adalah jodohku atau bukan namun bagiku yang terpenting untuk saat ini kamulah yang aku perjuangkan. Meskipun kamu tahu jika hubungan ini tiada kepastian namun kamu tetap selalu berada di sampingku menemaniku dalam diam dan tawa.

      Aku percaya tuhan pasti akan menunjukkan jalan dan rencananya yang lebih indah pada kita. Mintalah aku pada tuhanmu sebagaimana aku memintamu pada tuhanku dalam doaku. Meskipun doa kita berbeda tapi yakinlah kita akan dipertemukan pada Amin yang sama. 

Iini kisah Fiktif yang mungkin saja nyata bagi sebagian orang, Bersambung... 

Kamis, 18 Mei 2017

SENYUMAN DOKTER CANTIKKU (Bagian Pertama)


Sumber Foto : Google Image

Harus dengan alasan apa lagi aku mengeluh kepada tuhan jika dia telah menciptakanmu untuk harus aku syukuri. Aku bisa pergi jika aku ingin mencari yang lebih baik tapi aku selalu menyadari tiap langkahku yang akan meninggalkan orang yang begitu baik. Hidup ini seperti langit yang selalu menjadi misteri kadang mendung kemudian hujan namun selalu ada pelangi tersenyum di balik cerahnya langit…

Entah mengapa di malam itu pikiranku kembali mengingat disaat pertama kali kita bertemu dikala duka menghampiriku. Semakin perlahan ku menutup mata dengan nafas yang pelan semakin aku mengingat semua yang pernah kita lalui bersama. Aku kembali teringat disuatu hari ketika aku menatapmu di sebuah rumah sakit umum. Saat itu ibuku terbaring lemas di salah satu kamar vip di rumah sakit tersebut dan sesaat setelah aku masuk ke dalam kamar pasien seorang suster masuk untuk memeriksa cairan infus milik ibuku tak lama setelah itu seorang dokter pun masuk untuk menanyakan keadaan ibu. Aku tak begitu memperhatikan mereka karena bagiku itu adalah urusan medis antara dokter dan pasien, setelah tugas mereka selesai tiba saatnya untuk mereka keluar, tepat disaat mereka berbalik si suster pun pamit dan tersenyum padaku seketika aku pun membalas senyumannya dan ketika aku menatap orang yang berjalan bersebelahan dengannya aku tak sengaja terus menatap hingga sang dokter itu berkata “Hey.. jangan melamun nanti bisa ikutan sakit loh..” dengan senyum yang manis dan ramah dokter itu menyapaku, aku hanya bisa tersenyum malu tanpa sedikitpun mengeluarkan kata-kata. Hanya saja dalam hatiku berkata jika dokter itu begitu sangat cantik di usianya yang masih sangat muda.

            Beberapa hari berlalu dengan setia dokter cantik itu masih tetap menangani ibuku. Saat itu ibu masuk rumah sakit karena terjadi benturan keras di kepalanya akibat terjatuh dari tangga rumah yang sangat tinggi, kata dokternya ibu harus dirawat lebih lama karena terjadi pendarahan di dalam kepala, aku tak begitu mengerti dengan penjelasannya tapi intinya seperti itu. Disuatu malam ketika hanya aku yang menjaga ibu tiba-tiba ibu merasa sangat kesakitan di bagian kepalanya, aku begitu panik hingga aku teriak dan berlari keluar kamar untuk memanggil suster, seketika suster pun datang dan mencoba menangani sambil menghubungi dokter. Tak lama berselang dokter pun datang dan segera menyuntikkan obat ke ibu dan akhirnya ibu perlahan merasa tenang dan akhirnya tertidur.

            Saat itu rasa panik dan takut masih aku rasakan, para suster pun meninggalkan ruangan dan akhirnya hanya ada aku, ibu dan dokter. Dokter langsung menghampiriku yang duduk di sofa dengan rasa cemas, dokter yang begitu tenang dengan wajahnyan yang cantik mencoba menenangkanku dengan berkata “Sudah tidak apa-apa mas, aku menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke ibu, ada penenangnya juga jadi ibu bisa tidur nyenyak untuk malam ini” ucapan dokter ini berhasil mebuatku sedikit  tenang meskipun tanpa suntikan penenang. “Terimakasih dok, tadi aku begitu khawatir” jawabku singkat merasa malu. “Iya sama-sama mas sudah menjadi kewajibanku untuk membantu pasien” katanya sambil tersenyum. “Mmm.. dok, boleh jangan panggil aku Mas? Namaku Rendi dok” secara tidak langsung aku memperkenalkan diri berharap sang dokter membalas dengan percakapan yang lebih meskipun pada akhirnya dia hanya berkata “Iya Rendi, kalau begitu aku pamit dulu masih ada pasien yang menunggu, hehe..” kemudian dia pergi.

            Keesokan harinya aku menanti kedatangan dokter cantik itu. Entah apa yang aku rasakan saat itu, rasa ingin selalu bertemu dengan dokter itu, harus ku akui bahwa aku menyukainya selain wajahnya yang begitu cantik juga sikapnya yang begitu bersahabat membuatku sangat menyukainya namun selama ini aku belum pernah menyatakan perasaan kepada seorang wanita itu sebabnya teman-temanku kadang menejekku dengan sebutan Takojo (Tampan Kok Jomblo?) dan menurutku aku tak pantas dengan seorang dokter selain usianya yang jauh lebih tua dariku yang masih mahasiswa semester 4 ini juga tingkat pergaulan antara kami juga sangat jauh berbeda, aku bergaulnya dengan anak-anak yang masa depannya masih dipertanyakan sedangkan dia bergaulnya dengan yang tak perlu dipertanyakan. Tiba pada saat sore itu ketika sang dokter datang memeriksa keadaan ibu aku merasa jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Sementara ibu berbicara pada dokter tiba-tiba ibu memanggilku untuk membawakan segelas air putih, dengan semangat aku memberi kepada ibu setelah ibu meminumnya ibu pun bertanya kepada dokter “Dokter namanya siapa?” dengan ramah dokter cantik ini menjawab “Nama saya Risna bu” dengan ini aku telah mengetahui jika nama dokter ini adalah Risna, seolah ibu tahu jika aku ingin mengetahui nama ibu dokter ini. Ibu pun kembali bertanya “Nak Risna sudah punya pacar belum?” aduhh.. pertanyaan ibu ini membuatku sedikit malu tapi biarlah jawaban ini juga salah satu yang ingin aku ketahui. Risna Dokter cantik itu tersenyum berkata “Saya sudah punya suami dan dua orang anak bu” mendengar jawaban itu membuatku ingin disuntik mati saja, aku merasa hancur namun dokter tertawa sambil berkata “Hahaha… jangankan suami buu pacaran saja belum pernah” untung aku tidak disuntik mati, mendengar jawaban ini aku sangat senang. Saat itu pula ibu tersenyum tulus kembali bertanya ke dokter “Nak Dokter Risna mau tidak menikah dengan Rendi anak saya ini?” ibu tersenyum dan menatap ke arahku. Untuk bagian ini aku tak dapat menuliskan dengan kata apa yang aku rasakan saat itu, iya aku merasa malu namun disaat yang sama aku juga ahh entahlah. Saat itu suasana sejenak hening, Dokter Risna sesaat menatapku seolah dengan cepat menilai semua yang ada pada diriku kemudian kembali bertatapan dengan ibu tersenyum menjawab “Iya aku mauu Kalau masalah jodoh aku serahkan kepada Allah SWT ibu.” Seolah mencoba meyakinkan, ibu tersenyum tenang dan berkata “Kalian bisa saling mengenal dulu mencoba menjalin kedekatan saja, usia ibu juga sudah senja, ibu sangat bahagia dan tenang jika anak ibu menikah dengan seorang dokter dan..” Belum selesai ibu berbicara aku memotong pembicaraannya karena sejujurnya aku tidak suka jika mendengar ibu berkata mengenai usia. “Ibu dokternya pasti lagi banyak pasien jangan diajak cerita lama-lama dong ibu.” Kataku sedikit tegas. “Tidak apa-apa kok Rendi, lagian apa salahnya ibu membahasakan isi hatinya.” Kata Dokter Risna kepadaku, setelah itu dia pun pamit kepada ibu “Kalau begitu aku pamit dulu ibu, mengenai yang ibu bahasakan tadi Inshaa Allah kita semua bisa dapat petunjuk dari Allah SWT.” Tanpa terasa bibirku berucap Aamiin.. ibu hanya bisa tersenyum menatap kami dan setelah itu Dokter Risna meninggalkan ruangan namun sempat menatapku kemudian tersenyum menghela nafas.

            Beberapa hari setelah itu keadaan ibu mulai membaik kami sekeluarga pun merasa sedikit tenang namun disaat kami semua berkumpul pada malam itu ibu kembali merasa kesakitan di kepalanya kami semua merasa khawatir namun  kebetulan pada malam itu Dokter Risna berada di ruangan karena itu tepat jam pengecekan pasiennya. Entah mengapa saat itu aku merasa tak tenang meskipun dokter dan para suster berada di dalam ruangan, kami hanya bisa menatap dan berdoa demi kesebuhan ibu. Adik-adik ku memelukku menangis dan berdoa serta ayah yang juga cemas menatap dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku menatap ibu yang mulai tak sadarkan diri, beberapa menit sempat sadar lalu muntah kemudian kembali tak sadarkan diri lagi. Setelah beberapa lama berjuang Dokter Risna berkata kepada suster “Jam 21:08” setelah berkata demikian Dokter Risna berbalik menuju ke arah kami menatapku berkata “Innalillahi wainnailaihi rojiun, ibu telah tiada yang sabar Rendi” kala itu aku menolak untuk percaya walaupun pada kenyataannya Adik dan Ayah telah menangis menuju ke arah ibu, aku menatap Risna yang kala itu juga mengeluarkan air mata, aku menuju kea rah Ibu dan mengeluarkan air mata kesedihan yang sangat sedih kehilangan…

            Tak lama setelah itu setelah pihak rumah sakit mengurus semuanya saat itu Dokter Risna yang mengurus semuanya kami pulang bersama ibu dan keesokan harinya kami memakamkan ibu dan berpisah untuk selamanya. Hari itu di pemakaman ibu juga hadir Dokter Risna dengan keadaan haru saat bertemu dengannya aku memeluknya dengan karena aku kembali mengingat saat terakhir disaat kami bertiga berbicara tentang isi hati ibu. Dokter Risna mengerti keadaan yang aku rasakan saat itu dia hanya bisa memegang pundak dan kepalaku dalam pelukannya sambil mengucapkan kata sabar berulang kali dari bibirnya kemudian juga ikut menangis tersedu.

            Sepulang pemakaman ibu pun dia ikut bersama kami menuju ke rumah. Aku sempat menatapnya dari kejauhan menenangkan Adik-adikku kemudian menghampiriku tersenyum dan izin pulang untuk kembali ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Saat itu aku hanya bisa berkata terimakasih atas semua bantuannya selama ini dan meminta maaf jika ada salah kata dari kami sekeluarga. Setelah saat itu kami tak bisa bertemu lagi dalam waktu yang cukup lama.

BERSAMBUNG..........

Maaf ceritanya harus bersambung dulu.. Penulis lelah dan ikut terhanyut dalam kesedihan tulisan khayalannya sendiri, skenario cerita yang kedua harus dirubah dulu..