Contact : 085255495033 | Instagram : @rhyfhad


KLIK PLAY MUSIK

Kamis, 18 Mei 2017

SENYUMAN DOKTER CANTIKKU (Bagian Pertama)


Sumber Foto : Google Image

Harus dengan alasan apa lagi aku mengeluh kepada tuhan jika dia telah menciptakanmu untuk harus aku syukuri. Aku bisa pergi jika aku ingin mencari yang lebih baik tapi aku selalu menyadari tiap langkahku yang akan meninggalkan orang yang begitu baik. Hidup ini seperti langit yang selalu menjadi misteri kadang mendung kemudian hujan namun selalu ada pelangi tersenyum di balik cerahnya langit…

Entah mengapa di malam itu pikiranku kembali mengingat disaat pertama kali kita bertemu dikala duka menghampiriku. Semakin perlahan ku menutup mata dengan nafas yang pelan semakin aku mengingat semua yang pernah kita lalui bersama. Aku kembali teringat disuatu hari ketika aku menatapmu di sebuah rumah sakit umum. Saat itu ibuku terbaring lemas di salah satu kamar vip di rumah sakit tersebut dan sesaat setelah aku masuk ke dalam kamar pasien seorang suster masuk untuk memeriksa cairan infus milik ibuku tak lama setelah itu seorang dokter pun masuk untuk menanyakan keadaan ibu. Aku tak begitu memperhatikan mereka karena bagiku itu adalah urusan medis antara dokter dan pasien, setelah tugas mereka selesai tiba saatnya untuk mereka keluar, tepat disaat mereka berbalik si suster pun pamit dan tersenyum padaku seketika aku pun membalas senyumannya dan ketika aku menatap orang yang berjalan bersebelahan dengannya aku tak sengaja terus menatap hingga sang dokter itu berkata “Hey.. jangan melamun nanti bisa ikutan sakit loh..” dengan senyum yang manis dan ramah dokter itu menyapaku, aku hanya bisa tersenyum malu tanpa sedikitpun mengeluarkan kata-kata. Hanya saja dalam hatiku berkata jika dokter itu begitu sangat cantik di usianya yang masih sangat muda.

            Beberapa hari berlalu dengan setia dokter cantik itu masih tetap menangani ibuku. Saat itu ibu masuk rumah sakit karena terjadi benturan keras di kepalanya akibat terjatuh dari tangga rumah yang sangat tinggi, kata dokternya ibu harus dirawat lebih lama karena terjadi pendarahan di dalam kepala, aku tak begitu mengerti dengan penjelasannya tapi intinya seperti itu. Disuatu malam ketika hanya aku yang menjaga ibu tiba-tiba ibu merasa sangat kesakitan di bagian kepalanya, aku begitu panik hingga aku teriak dan berlari keluar kamar untuk memanggil suster, seketika suster pun datang dan mencoba menangani sambil menghubungi dokter. Tak lama berselang dokter pun datang dan segera menyuntikkan obat ke ibu dan akhirnya ibu perlahan merasa tenang dan akhirnya tertidur.

            Saat itu rasa panik dan takut masih aku rasakan, para suster pun meninggalkan ruangan dan akhirnya hanya ada aku, ibu dan dokter. Dokter langsung menghampiriku yang duduk di sofa dengan rasa cemas, dokter yang begitu tenang dengan wajahnyan yang cantik mencoba menenangkanku dengan berkata “Sudah tidak apa-apa mas, aku menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke ibu, ada penenangnya juga jadi ibu bisa tidur nyenyak untuk malam ini” ucapan dokter ini berhasil mebuatku sedikit  tenang meskipun tanpa suntikan penenang. “Terimakasih dok, tadi aku begitu khawatir” jawabku singkat merasa malu. “Iya sama-sama mas sudah menjadi kewajibanku untuk membantu pasien” katanya sambil tersenyum. “Mmm.. dok, boleh jangan panggil aku Mas? Namaku Rendi dok” secara tidak langsung aku memperkenalkan diri berharap sang dokter membalas dengan percakapan yang lebih meskipun pada akhirnya dia hanya berkata “Iya Rendi, kalau begitu aku pamit dulu masih ada pasien yang menunggu, hehe..” kemudian dia pergi.

            Keesokan harinya aku menanti kedatangan dokter cantik itu. Entah apa yang aku rasakan saat itu, rasa ingin selalu bertemu dengan dokter itu, harus ku akui bahwa aku menyukainya selain wajahnya yang begitu cantik juga sikapnya yang begitu bersahabat membuatku sangat menyukainya namun selama ini aku belum pernah menyatakan perasaan kepada seorang wanita itu sebabnya teman-temanku kadang menejekku dengan sebutan Takojo (Tampan Kok Jomblo?) dan menurutku aku tak pantas dengan seorang dokter selain usianya yang jauh lebih tua dariku yang masih mahasiswa semester 4 ini juga tingkat pergaulan antara kami juga sangat jauh berbeda, aku bergaulnya dengan anak-anak yang masa depannya masih dipertanyakan sedangkan dia bergaulnya dengan yang tak perlu dipertanyakan. Tiba pada saat sore itu ketika sang dokter datang memeriksa keadaan ibu aku merasa jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Sementara ibu berbicara pada dokter tiba-tiba ibu memanggilku untuk membawakan segelas air putih, dengan semangat aku memberi kepada ibu setelah ibu meminumnya ibu pun bertanya kepada dokter “Dokter namanya siapa?” dengan ramah dokter cantik ini menjawab “Nama saya Risna bu” dengan ini aku telah mengetahui jika nama dokter ini adalah Risna, seolah ibu tahu jika aku ingin mengetahui nama ibu dokter ini. Ibu pun kembali bertanya “Nak Risna sudah punya pacar belum?” aduhh.. pertanyaan ibu ini membuatku sedikit malu tapi biarlah jawaban ini juga salah satu yang ingin aku ketahui. Risna Dokter cantik itu tersenyum berkata “Saya sudah punya suami dan dua orang anak bu” mendengar jawaban itu membuatku ingin disuntik mati saja, aku merasa hancur namun dokter tertawa sambil berkata “Hahaha… jangankan suami buu pacaran saja belum pernah” untung aku tidak disuntik mati, mendengar jawaban ini aku sangat senang. Saat itu pula ibu tersenyum tulus kembali bertanya ke dokter “Nak Dokter Risna mau tidak menikah dengan Rendi anak saya ini?” ibu tersenyum dan menatap ke arahku. Untuk bagian ini aku tak dapat menuliskan dengan kata apa yang aku rasakan saat itu, iya aku merasa malu namun disaat yang sama aku juga ahh entahlah. Saat itu suasana sejenak hening, Dokter Risna sesaat menatapku seolah dengan cepat menilai semua yang ada pada diriku kemudian kembali bertatapan dengan ibu tersenyum menjawab “Iya aku mauu Kalau masalah jodoh aku serahkan kepada Allah SWT ibu.” Seolah mencoba meyakinkan, ibu tersenyum tenang dan berkata “Kalian bisa saling mengenal dulu mencoba menjalin kedekatan saja, usia ibu juga sudah senja, ibu sangat bahagia dan tenang jika anak ibu menikah dengan seorang dokter dan..” Belum selesai ibu berbicara aku memotong pembicaraannya karena sejujurnya aku tidak suka jika mendengar ibu berkata mengenai usia. “Ibu dokternya pasti lagi banyak pasien jangan diajak cerita lama-lama dong ibu.” Kataku sedikit tegas. “Tidak apa-apa kok Rendi, lagian apa salahnya ibu membahasakan isi hatinya.” Kata Dokter Risna kepadaku, setelah itu dia pun pamit kepada ibu “Kalau begitu aku pamit dulu ibu, mengenai yang ibu bahasakan tadi Inshaa Allah kita semua bisa dapat petunjuk dari Allah SWT.” Tanpa terasa bibirku berucap Aamiin.. ibu hanya bisa tersenyum menatap kami dan setelah itu Dokter Risna meninggalkan ruangan namun sempat menatapku kemudian tersenyum menghela nafas.

            Beberapa hari setelah itu keadaan ibu mulai membaik kami sekeluarga pun merasa sedikit tenang namun disaat kami semua berkumpul pada malam itu ibu kembali merasa kesakitan di kepalanya kami semua merasa khawatir namun  kebetulan pada malam itu Dokter Risna berada di ruangan karena itu tepat jam pengecekan pasiennya. Entah mengapa saat itu aku merasa tak tenang meskipun dokter dan para suster berada di dalam ruangan, kami hanya bisa menatap dan berdoa demi kesebuhan ibu. Adik-adik ku memelukku menangis dan berdoa serta ayah yang juga cemas menatap dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku menatap ibu yang mulai tak sadarkan diri, beberapa menit sempat sadar lalu muntah kemudian kembali tak sadarkan diri lagi. Setelah beberapa lama berjuang Dokter Risna berkata kepada suster “Jam 21:08” setelah berkata demikian Dokter Risna berbalik menuju ke arah kami menatapku berkata “Innalillahi wainnailaihi rojiun, ibu telah tiada yang sabar Rendi” kala itu aku menolak untuk percaya walaupun pada kenyataannya Adik dan Ayah telah menangis menuju ke arah ibu, aku menatap Risna yang kala itu juga mengeluarkan air mata, aku menuju kea rah Ibu dan mengeluarkan air mata kesedihan yang sangat sedih kehilangan…

            Tak lama setelah itu setelah pihak rumah sakit mengurus semuanya saat itu Dokter Risna yang mengurus semuanya kami pulang bersama ibu dan keesokan harinya kami memakamkan ibu dan berpisah untuk selamanya. Hari itu di pemakaman ibu juga hadir Dokter Risna dengan keadaan haru saat bertemu dengannya aku memeluknya dengan karena aku kembali mengingat saat terakhir disaat kami bertiga berbicara tentang isi hati ibu. Dokter Risna mengerti keadaan yang aku rasakan saat itu dia hanya bisa memegang pundak dan kepalaku dalam pelukannya sambil mengucapkan kata sabar berulang kali dari bibirnya kemudian juga ikut menangis tersedu.

            Sepulang pemakaman ibu pun dia ikut bersama kami menuju ke rumah. Aku sempat menatapnya dari kejauhan menenangkan Adik-adikku kemudian menghampiriku tersenyum dan izin pulang untuk kembali ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Saat itu aku hanya bisa berkata terimakasih atas semua bantuannya selama ini dan meminta maaf jika ada salah kata dari kami sekeluarga. Setelah saat itu kami tak bisa bertemu lagi dalam waktu yang cukup lama.

BERSAMBUNG..........

Maaf ceritanya harus bersambung dulu.. Penulis lelah dan ikut terhanyut dalam kesedihan tulisan khayalannya sendiri, skenario cerita yang kedua harus dirubah dulu..